fbpx

Menjelang PON 2024, Aceh Lebih Layak Miliki Kereta Bandara

186

SatuAcehNews – Kereta Api Bandara menjadi tren baru transportasi di tengah ibukota provinsi di Indonesia. Beberapa provinsi telah merampungkan operasional kereta api rute bandara dimulai dari Provinsi Sumatera Utara (1) dengan rute Bandara Internasional Kuala Namu–Kota Medan. Provinsi Sumatera Barat (2) dengan rute Bandara Internasional Minangkabau–Kota Padang. Juga rute (3) Bandara Internasional Yogjakarta (Wojo)–Maguwo Kota, rute (4) Bandara Internasional Adi Soemarmo–Solo, rute (5) Bandara Internasional Mahmud Badaruddin II–Kota Palembang yang rampung saat Pagelaran Asian Games 2018, serta rute (6) Bandara Internasional Soekarno Hatta–Jakarta.

Baru-baru ini diketahui Kementerian Perhubungan akan memulai proses pembangunan stasiun untuk kereta bandara di Bandara Raden Inten II, Lampung, pada 2020 mendatang. Setelah stasiun dan prasarana lain rampung, kereta bandara pertama di provinsi ini dirancang akan beroperasi pada 2022.

Maka, total sudah 6 stasiun bandara yang terkoneksi dengan jaringan transportasi di Ibukota, disusul Lampung dan Makassar.

Tren pembangunan stasiun bandara, ini semakin meningkat di tengah kemajuan terlebih di ibukota provinsi yang memiliki jumlah kunjungan masyarakat dan promosi pariwisata. Bagaimana dengan Provinsi yang menerapkan Syariah Islam di paling barat Sumatera, Aceh?

Pegiat Sea Studies, Muhammad Ichsan, mengatakan tren pembangunan stasiun kereta api bandara adalah sebagai moda transportasi modern penunjang pariwisata. Selain hal tersebut dapat mengukur kemajuan infrastruktur sebuah kota, dalam hal ini mengartikan adanya ketersediaan transportasi masa kini yang memudahkan para wisatawan baik lokal maupun internasional.

“Aceh sebagai provinsi yang menarik perhatian pariwisata lokal dan asing sudah selayaknya memiliki stasiun kereta api bandara yang terhubung dengan Bandara Internasional. Aceh harus mencontohi negara Malaysia. Peta transportasi kota Kuala Lumpur atau Dubai sebagai Plan Model,“ ujar Ichsan.

Menatap kemajuan transportasi Aceh yang nantinya akan menyelenggarakan Pekan Olahraga Nasional (PON) pada tahun 2024 nanti. Pasalnya, Provinsi Aceh adalah pasangan Sumut sebagai tuan rumah haruslah berbenah. Salah satunya melalui ketersediaan layanan publik yang modern.

“Aceh selain kaya akan lokasi wisata juga kaya akan ragam budaya serta kuliner,” lanjut mahasiswa Magister Asia Tenggara, Universitas Indonesia itu.

Pengamat Fokusparlemen Institute tersebut menambahkan lagi.

“Dari pada pemerintah membeli pesawat terbang minim penggunaan ke masyarakat luas, akan lebih baik memperbaiki infrastruktur transportasi modern di darat seperti jalur kereta api khususnya bandara. Saat ini kebutuhan masyarakat kota modern, dalam hal ini Kota Banda Aceh, pusat ibukota Provinsi harus cepat berbenah dari ketertinggalan,” tutupnya.

Saat ini Aceh hanya memiliki Kereta Api (KA) bernama Cut Meutia (sebelumnya bernama Kereta Api Perintis Aceh). Merupakan kereta api yang melayani perjalanan dari Stasiun Krueng Mane-Bungkaih-Krueng Geukueh yang ada di Provinsi Aceh dengan layanan Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) buatan PT Inka. Kereta api ini diuji coba mulai tanggal 1 Desember 2013 lalu.

Masyarakat pun diberi kesempatan naik secara gratis selama sebulan pada masa uji coba tersebut. Jarak jalur KA ini sejauh 11,3 km. Kereta api ini berjalan pada jalur rel selebar 1.435 mm, bukan 1.067 mm yang umumnya dipakai di Indonesia. (MI)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More