Tulis “Take A Beer”, Politisi Nasdem Aceh Dituding Menista Islam

0
266
take a beer
Komentar Irwan Djohan yang dinilai telah menistakan kata Takbir. Kini komentar tersebut sepertinya telah dihapus.
2019

SatuAcehNews – Politisi Partai Nasdem Aceh Teuku Irwan Djohan dituding telah melakukan penistaan terhadap agama Islam. Wakil ketua DPRA ini mengkomentari status Facebooknya dengan kalimat “Take A Beer” yang bisa diartikan pelecehan kata Takbir.

Dalam sebuah statusnya di akun Facebooknya, Irwan Djohan membalas sebuah komentar dengan kata “Take A Beer” dan gambar emoticon gelas bir. Awalnya Irwan menulis di status Facebooknya “BEYOND EXPECTATION Bukan Indosat, tapi Freeport Yang di-BuyBack!!!”

Seseorang mengkomentari dengan kalimat “Anda Benar”. Komentar tersebut dibalas oleh Irwan dengan kalimat “Take A Beer” ditambah emoticon gelas bir. Komentar yang dianggap menistakan agama Islam tersebut kemudian dicapture oleh akun seorang netizen dan di-posting di akun Facebooknya. Postingan tersebut kemudian viral dan mengundang kecaman dari banyak pihak.

 

 

Saat redaksi mencoba menelusuri komentar yang meresahkan tersebut, tidak lagi ditemui. Sepertinya Irwan telah menghapus komentar tersebut. Namun tidak ditemukan adanya permintaan maaf atas keteledorannya tersebut. Dalam akun Facebooknya, Irwan Djohan malah membuat status-status baru yang pada intinya menyatakan bahwa dia sedang difitnah.

Teuku Irwan Djohan adalah politisi Partai Nasdem yang saat ini menjabat wakil ketua DPR Aceh. Di pemilu 2019 ia kembali mencoba peruntungan dengan menjadi caleg dari partai yang sama untuk daerah pemilihan Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang.

Kata “take a beer” atau “take beer” adalah kata yang sengaja digunakan di luar negeri untuk memplesetkan ungkapan Takbir. Dalam beberapa kejadian, di Indonesia ada juga dipelesetkan menjadi “tuak bir”, yang pada intinya saat diucapkan hampir sama dengan kata “Takbir”.

Sebagai negara yang berkeTuhanan Yang Maha Esa, Indonesia sangat membenci segala bentuk penistaan terhadap agama. Dalam beberapa kasus, para penista agama Islam yang mengungkapkan pelecehan di depan publik sering kali berakhir di pengadilan. Namun tak jarang pula hukum sosial diambil warga yang marah atas kelakuan bodoh tersebut.#

Tinggalkan Balasan