PRUcinta Prudential Syariah
PRUcerah Prudential Syariah

Diframing sebagai Koruptor, Anies Baswedan Ingatkan Kompas tentang Negara Demokrasi

framing kompas anies baswedan
PRUcerah Prudential Syariah

SatuAcehNews – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan merasa perlu untuk membuat catatan atas peristiwa yang tidak mengenakkan terhadap dirinya. Harian Kompas pada Kamis (08/09/2022) menerbitkan sebuah artikel berjudul “Korupsi Bukan Lagi KejahatanLuar Biasa“.

Di halaman yang sama, Harian Kompas memuat juga daftar narapidana koruptor yang mendapatkan bebas bersyarat. Namun yang menjadi polemik adalah menempatkan photo Anies Baswedan di artikel yang sama tersebut.

PRUcinta Prudential Syariah

Website Instan

Banyak pengamat yang menilai apa yang dilakukan oleh Harian Kompas adalah upaya mencederai nama baik Anies Baswedan. Berbagai kritik pun ramai menghujani semua kanal media sosial harian yang telah terbit sejak jaman pemerintahan Orde Lama.

Sebenarnya artikel tersebut sangat bagus untuk dibaca, mengingatkan kepada publik tentang tindak pidana korupsi yang kini seolah-olah tidak lagi dianggap kejahatan luar biasa (extra ordinary crime).

Dengan keputusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan pembebasan bersyarat kepada 23 narapidana tindak pidana korupsi, kini korupsi tidak dianggap lagi sebagai kejahatan luar biasa. Terlebih mengingat, remisi juga sudah kian mudah diperoleh koruptor sejak Mahkamah Agung membatalkan Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.

Merespon hal tersebut, Anies Baswedan merasa perlu untuk menanggapinya. “Namun, saya memilih tetap menyampaikan catatan ini pada publik agar bisa menjadi pengingat bagi kita semua dalam bernegara dan berdemokrasi,” ujarnya dalam postingannya di kanal-kanal media sosialnya, antara lain Fanpage Facebooknya.

framing kompas anies baswedan

Ketimbang membawanya ke Dewan Pers, Anies memilih mempercayai jawaban petinggi Harian Kompas yang menyebut bahwa penempatan photo beliau di artikel tersebut adalah sebuah kelalaian.

“Memang disayangkan kesalahan mendasar seperti itu terjadi di media seperti Kompas yg pastinya memiliki mekanisme pengawasan berlapis,” tulisnya, seolah masih menyimpan keraguan atas jawaban yang ia terima.

Tulisan Lengkap Anies Baswedan

Berikut adalah tulisan lengkap Anies Baswedan yang dikutip dari Fanpage-nya.

Kemarin, sehari sesudah memenuhi undangan KPK untuk memberikan keterangan terkait Formula-E, saya menerima banyak pesan memberitahukan tentang berita yang dimuat di Harian Kompas.

Judul beritanya besar: Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa. Isinya mayoritas tentang pembebasan bersyarat 23 narapidana tipikor. Terdapat pula kolom berisi daftar napi tipikor yg dibebaskan.

Yang aneh: yang terpampang adalah foto Gubernur DKI. Tidak ada hubungan dengan topik yg ditulis di dalam artikel. Di bagian akhir artikel terdapat tiga paragraf kecil tentang kedatangan Gubernur DKI ke KPK, yang juga tidak ada hubungan dgn topik beritanya.

Media memang memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi, opini dan perasaan pembacanya. Karena memiliki kekuatan besar inilah maka media harus memiliki tanggung jawab yang besar pula.

Media sebagai pilar demokrasi bukannya tidak boleh berpihak. Sebaliknya, ia justru harus berpihak, pada kebenaran, keadilan, dan objektivitas. Tanggung jawab media memang berat, karena risiko dampak salah langkahnya pun besar.

Kemarin, beberapa pemimpin Kompas menjelaskan pada saya, bahwa penempatan foto itu adalah kelalaian, tak ada niat framing buruk. Memang disayangkan kesalahan mendasar seperti itu terjadi di media seperti Kompas yang pastinya memiliki mekanisme pengawasan berlapis.

Hari ini, Kompas memasang berita baru yg menjelaskan secara lebih objektif terkait kedatangan saya ke KPK. Kompas hari ini memberi contoh kepada Kompas kemarin tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis.

Kompas hari ini memberi contoh kepada Kompas kemarin tentang bagaimana sebuah berita seharusnya ditulis.

Dahulu, Kompas sebenarnya hendak diberi nama Bentara Rakyat. Namun Bung Karno memberi usul nama Kompas, karena kompas adalah penunjuk arah dan jalan.

Kita berharap, filosofi nama Kompas ini terus dijaga. Apabila sebuah kompas berfungsi baik, maka kita lancar dan selamat mengarungi perjalanan. Apabila jarumnya terpengaruh oleh magnet (polar), maka ia tak lagi dapat menjadi penunjuk arah.

Saya memilih mempercayai penjelasan pemimpin di Kompas dan, walau banyak yg menyarankan, saya memilih tidak membawa masalah ini kepada Dewan Pers. Namun, saya memilih tetap menyampaikan catatan ini pada publik agar bisa menjadi pengingat bagi kita semua dalam bernegara dan berdemokrasi.

SimpleWordPress