OPINI – Catatan Jacob Ereste: Kepemimpinan Spiritual Yang Diidolakan GMRI, MUI & PPAD

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh Jacob Ereste*

Disela acara safari GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) ke Jawa Barat dan Jawa Tengah, acara dialog “Spiritual Membangun Hubungan Kebangsaan Agama-agama di Indonesia Dalam Peran Peradaban Perubahan Jaman” bersama PPAD (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat) dan MUI (Mejelis Ulama Indonesia), Senin, 6 September 2021 di Aula PPAD Jl. Matraman Jakarta Timur.

Kelemahan pemahaman spiritual dalam suatu negara karena lemahnya spiritual bangsa, kata Eko Sriyanto Galgendu mengawali diskusi yang dihadiri para Purnawirawan perwira Tinggi Angkatan Darat dan Aspirasi Emak-emak serta para pegiat gerakan kebangkitan kesadaran spiritual yang mendukung GMRI.

Dan kejayaan bangsa Indonesia pada masa lalj bukan dirandai oleh limpahan rempah-rempah hingga menarik bangsa Eropa berdatangan ke nusantara, karena rempah-rempah itu lebih menandai kejayaan bangsa Eropa. Sedangkan kejayaan suku bangsa Indonesia hanys ditandai oleh budayanya maha dakhsyat, tandas Ketua Umum GMRI.

Letnan Jendral Purnawirawan Kiki Syahnakri melihat gerakan moral rekonsiliasi Indonesia adalah sebuah pekerjaan besar. “Jadi tidak bisa main-main melakukannya”, kata Ketua Umum PPAD yang juga percaya perlunya kebangkitan kesadaran spiritual di Indonesia harus segera dilakukan. Setidaknya menurut Eko Sriyanto Galgendu, hanya dengan begitu dapat diharap lahirnya sosok kepemipinan spiritual yang tangguh dan bisa menjadi panutan rakyat.

Disiplin diri dan produktivitas seperti yang menjadi spirit Lee Kuan Yu dalam membangun Singapura telah membuktikan hasilnya yang luar biasa memberi manfaat bagi rakyatnya.

Sedangkan Sekretaris Jenderal MUI Dr. Amirsyah Tambunan langsung menunjuk semangat spiritual itu seperti termuat dalam pembukaan UUD 1945 yang menyebut berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa atau pada sila pertama Pancasila yang tertulis jelas Tuhan Yang Maha Esa mengandung makna spiritual yang luar biasa.

Jadi kekuatan dari laku spiritual bangsa Indonesia, kata Dr. Amirsyah Tambunan harus terus menerus diupayakan agar kezaliman dan kemungkaran yang merusak tatanan berbangsa dan bernegara harus dihapuskan, karena memang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa kita, tandasnya. Sehingga kekuatan spiritual harus dapat mengalahkan kekuatan politik. Karena dengan kekompakan, kebersamaan dan keyakinan yang istiqomah akan menjadi kekuatan yang tidak dapat dipatahkan oleh pihak manapun.

Maka itu, kata Amursyah, rakyat jangan mau duadu domba. Dipecah belah, dan dibenturkan antara yang satu dengan lain. Apalagi dalam geipolitik kita sedang berubah. Karena itu kesadaran spiritual harus terus menerus disosialisasikan seperti UUD 1945 dan Pancasila sebagai perekat bangsa.

Amursyah Tambunan sepakat dengan apa yang dikatakan Letnan Jendral Kiki Syagnakri bahwa seorang pemimpin harus diseleksi secara meritokrasi, yaitu sistem yang memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memimpin berdasarkan kemampuan atau prestasi, bukan kekayaan, senioritas, dan sebagainya, seperti yang sudah terjadi berulang kali di negeri ini.

Karena dalam model meritokrasi menunjuk kepada bentuk sistem politik yang memberikan penghargaan lebih kepada mereka yang berprestasi atau memiliki kemampuan yang dapat dipakai untuk menentukan jabatan bagi yang bersangkutan. Karena dalam sistem ini cukup adil untuk memberi kesempatan pada mereka yang berprestasi untuk duduk sebagai pemimpin.

Dalam konteks ini, harapan GMRI yang acap disebut oleh Eko Sriyanto Galgendu mengidolakan sosok kepemimpinan spiritual, bisa saja muncul dari bilik budaya atau bidang kehidupan yang laun, diluar habitat politik yang terasa telah sangat menjenuhkan itu.

Untung saja akhir diskusi bisa disampul dengan pembacaan puisi Emak-emak dari Aspirasi berjudul kebangkitan. Hingga topik politik yang sudah membosankan itu, bisa segera dilupakan. Toh, masalah pandemi Covid-19 dengan Varian terbaru yang telah ikut mengacam hidup manusia Indonesia, tak kalah seru dan juga mengerikan dari pertarungan politik yang mencapai puncak klimaknya pada tahun 2024. Semua itu kelak akan menguras energi kita juga. (RED/AFA)

Jakarta, 6 September 2021

*Pengamat Sosial Kemasyarakatan Nasional

  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.