fbpx

Hidupkan HAMKA

98

Oleh: Maghdalena*

SatuAcehNews – Jam di dinding berdetak keras. Heningnya malam membuat suara gerak jarum jam terdengar lebih kuat. Meningkahi suara cicak yang menemaniku dalam rapat alot malam ini. Rapat persiapan launching dan pembahasan konsep program Komunitas Menulis Hamka RPI Sumatera Barat.

Kulirik dari sudut mata. Jarum jam dinding hanya 20 menit lagi menuju angka 12 malam. Telah larut rupanya. Sebentar lagi hari berganti. Tapi diskusi ini seperti belum hendak berlabuh ke muara.

Saya dan beberapa tim divisi kepenulisan RPI Sumbar tengah mempersiapkan dan mematangkan sebuah konsep pengelolaan komunitas baru yang akan kami launching dalam waktu dekat. Komunitas itu kami beri nama Komunitas Menulis Hamka. Sebuah wadah kepenulisan di bawah RPI Sumatera Barat, yang kami harapkan akan mampu mengangkat dan mempertahankan nama besar Hamka di kancah literasi Indonesia. Juga membuatnya abadi di hati setiap anak negeri.

Sepenting itukah? Iya. Penting sekali. Dunia bergulir begitu cepat. Banyak hal berubah dalam sekejap mata. Generasi harapan yang kelak akan menjadi pemimpin negara ini harus diperkenalkan dengan manusia-manusia terbaik milik Ibu Pertiwi. Hamka salah satunya.

Jangan sampai keluhuran nilai-nilai yang telah diusung Hamka dalam setiap karya, juga peninggalan-peninggalannya, lekang begitu saja, lalu luruh bersama aliran derasnya hujan modernisasi. Sungguh disayangkan kalau itu terjadi.

Dan pembentukan komunitas ini adalah salah satu upaya insan-insan produktif di RPI Sumatera Barat untuk membuat setiap kebaikan dan nilai-nilai luhur dari seorang Hamka tetap dikenang dan dapat dijadikan teladan anak negeri dalam berkarya.

Hamka mengajarkan banyak hal kepada kita, salah satu yang kami bahas pada rapat tadi malam adalah bahwa seorang Hamka memiliki fase kehidupan menulis yang layak untuk dikaji dan diteladani.

Hamka muda memiliki fase kritis yang melekat dalam karyanya. Ia mengkritik sistem matrilineal di Minangkabau yang kemudian ia tuangkan dalam roman karyanya. Salah satunya adalah Tenggelamnya Kapal Vander Wijck.

Namun seiring berjalannya waktu, dan bertambahnya pemahaman dirinya, yang disebabkan oleh bacaan dan wawasan yang makin luas juga pengalaman empiris yang tidak sedikit, Hamka kemudian mulai membuka diri untuk memahami dan menerima nilai-nilai adat bersanding dengan nilai-nilai agama yang dulu ditentangnya itu, tanpa meninggalkan dan melepaskan kekritisan dalam dirinya.

Hamka mengajarkan sebuah proses kepada kita, akan pentingnya diri untuk terus belajar, mengkaji, memperbanyak diskusi, memperluas wawasan dan memperbanyak kawan dalam kehidupan.

Komunitas Menulis Hamka RPI Sumatera Barat hadir, untuk menjaga agar keteladanan Hamka tetap abadi dalam diri, hati dan produktifitas anak negeri.

Berbagai program komunitas telah dirancang dan disiapkan. Digarap dengan matang agar memberi kebermanfaatan yang luas bagi bangsa ini.

Mari biarkan Hamka tetap hidup dalam dunia literasi kita. Agar pewaris bangsa ini tidak lupa, bahwa di sebuah pinggir danau indah yang bernama Maninjau, pernah lahir seorang tokoh luar biasa yang keteladanannya akan dikenang sepanjang masa.

Padang, 9 September 2020

*Penulis adalah Ketua DPW RPI Sumatera Barat

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More