fbpx

60 Tenaga Medis di Aceh Terpapar Covid-19

213

SatuAcehNews – Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Aceh Safrizal Rahman menyebut ada 60 tenaga medis yang saat ini terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19.

Safrizal Rahman menjelaskan jumlah tersebut kemungkinan akan terus meningkat bila pemerintah tidak memperketat sistem penapisan di fasilitas kesehatan.

“Sampai saat ini yang sudah saya catat, hampir 60 orang yang positif tenaga medis perawat maupun dokter. Jumlah itu akan terus bertambah jika pemerintah tidak memperketat sistem penapisan di setiap fasilitas kesehatan,” kata Ketua IDI Aceh Safrizal Rahman di Banda Aceh, Selasa (04/08/2020).

Sebagaimana dikutip dari Antaranews, Safrizal menyebutkan, selama ini layanan di fasilitas kesehatan terkait COVID-19 dan perlindungan terhadap tenaga medis masih terkesan lemah. Akibatnya para tenaga medis yang terpapar dan konfirmasi positif makin hari terus bertambah.

Menurut dia, upaya penapisan atau skrining awal di setiap fasilitas kesehatan harus diperketat. Ketika ada pasien masuk maka terdapat prosedur yang jelas. Sejumlah pertanyaan yang disodorkan ke pasien guna melihat seorang pasien itu mengarah ke COVID-19 atau tidak.

“Kalau memang pasien ini mengarah ke COVID-19 maka langsung dipindahkan ke tempat perawatan COVID-19. Kalau yang tidak, baru boleh masuk ke fasilitas biasa,” ujarnya.

Apabila penapisan tidak ketat, kata Safrizal, maka pasien COVID-19 bisa saja diarahkan ke ruang biasa. Sedangkan di fasilitas biasa petugas akan merawat seperti umumnya. Sehingga kalau akhirnya ternyata COVID-19 maka para perawat tersebut juga sangat rawan tertular.

“Dan itu terjadi beberapa sekali dan sering sekali bahkan. Lolos pasien masuk ke ruang biasa. Ternyata belakangan diketahui COVID-19. Sehingga siapa saja berkontak dekat dengan pasien ini harus diperiksa semuanya,” katanya.

Lanjut dia, dari 60 tenaga medis tersebut sekitar 25 orang merupakan dokter, termasuk di dalamnya peserta program dokter spesialis (PPDS), dan selebihnya perawat. Umumnya mereka yang terinfeksi itu tanpa bergejala. Cuma membutuhkan isolasi mandiri yang diawasi ketat agar tidak menularkan ke orang lain.

“Angka ini fluktuatif ya, akan terus meningkat, karena memang pemeriksaan kita kadang-kadang butuh waktu sedikit lama. Mereka diperiksa dan mereka harus diisolasi sementara menunggu hasil swab. Karena kalau mereka bekerja takutnya hasil positif, maka sudah banyak lagi yang harus ditracing,” katanya.

Ada beberapa orang (bergejala) dan satu orang dokter sekarang di respiratory intensive care unit (RICU) harus diberikan alat bantu nafas, sangat memprihatinkan, tapi sebagian besar tanpa gejala, katanya, menambahkan.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More