OPINI – Digitalisasi Penyiaran Di Indonesia

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh: Muhammad Robani*

Digitalisasi penyiaran merupakan tuntutan teknologi yang tak terelakkan bagi indonesia. Berbagai manfaat ditawarkan dengan migrasi penyiaran dari sistem analog ke sistem digital.

Di negara-negara maju, perencanaan switch off sistem analog sudah mulai dilakukan pada akhir tahun 2020. Oleh karena itu, muncul pandangan bahwa digitalisasi penyiaran merupakan sesuatu yang tak terelakkan bagi indonesia, tinggal menunggu waktu. Di samping itu, terdapat berbagai manfaat yang didapatkan dalam penggunaan sistem penyiaran digital.

Sejak tahun 2004, pemerintah sebenarnya telah mecanangkan migrasi ke penyiaran digital dengan membuat kajian menuju penyiaran televisi digital. Akan tetapi, rencana tersebut kandas karena kurangnya payung hukum dalam pelaksanaannya.

Dengan mengetahui penyiaran digital serta memahami keuntungan kerugiannya, diharapkan bahwa masyarakat dapat mengawal proses migrasi yang diamanatkan undang-undang cipta kerja.

Secara teknis, digitalisasi merupakan proses perubahan segala bentuk informasi yang dikodekan ke dalam bentuk bit. Dengan demikian, dimungkinkan adanya manipulasi dan transformasi data termasuk peggandaan, pengurangan, maupun penambahan. Semua jenis informasi diperlakukan bukan dalam bentuk asli, tetapi bentuk digital yang sama.

Penyederhanaan ini pada akhirnya dapat merangkum aneka bentuk informasi, antara lain: huruf, suara, gambar, warna, gerak, dan sebagainya sekaligus kedalam satu format sehingga dapat memproses informasi untuk berbagai keperluan, seperti pengolahan, pengiriman, penyimpanan, penyajian, sekaligus dalam satu perangkat.

Di sisi lain, karena format digital kaya akan transformasi data dalam waktu bersamaan, digitalisasi televisi dapat meningkatkan resolusi gambar dan suara yang lebih stabil sehingga kualitas penerimaan oleh penonton akan lebih baik. Dengan kata lain, teknologi penyiaran televisi berbasis digital menjajikan tampilan gambar lebih bersih dan suara yang lebih stabil sehingga kualitas penerimaan oleh penonton akan lebih baik. Dengan kata lain, teknologi penyiaran televisi berbasis digital menjanjikan tampilan gambar lebih bersih dan suara yang lebih jernih.

Secara praktis, digitalisasi dianggap sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan dan inefisiensi pada penyiaran analog, baik radio maupun televisi. Efisiensi dan optimalisasi yang paling nyata dalam penyiaran, di antaranya adalh kanal siaran dengan jumlah yang  lebih banyak dan infrastruktur penyiaran, seperti menara pemancar, antena, dan saluran  transmisi yang masing-masing cukup menggunakan satu alat untuk banyak siaran.

Dalam konteks penyiaran radio, digitalisasi radio berarti menerapkan teknologi radio yang membawa informasi dalam sinyal digital dengan metode modulasi digital. Dalam hal ini, umumnya teknologi penyiaran digital audio sama dengan televisi, teknologi penyiaran radio berbasis digital menjajikan suara yang lebih jernih.

Dalam sistem analog, satu kanal hanya bisa diisi satu saluran sistem. Kondisi ini dimungkinkan  karena dalam sistem digital pelebaran  frekuensi bisa dilakukan. Ini sangat  berbeda dengan teknologi  analog yang hanya memungkinkan satu frekuensi untuk satu saluran program siaran.

Frekuensi sendiri adalah salah satu istilah penciri gelombang radio. Secara  sederhana,  frekuensi memiliki harga atau nilai dari nol sampai  tak terhingga. Pancaran sinyal dari pemancar radio akan menempati satu rentang frekuensi tertentu. Meskipun sama-sama menggunakan teknologi digital, siaran televisi digital bukanlah siaran televisi melalui internet. Sementara itu, untuk dapat menikmati siaran televisi digital, hanya diperlukan antena serta perangkat televisi yang selama ini digunakan digunakan untuk menerimasiaran televisi analog. (RED/AFA)

Kediri, 30 Juli 2021

*Mahasiswa Universitas Hasyim Asyari, Jombang, Jawa Timur

  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.