OPINI – Berpikir Ekonomis Dimasa Pandemi

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh: Arfiandi ST, MM.*

Sebagai seorang praktisi penulis dengan rajin membahas masalah-masalah aktual yang lagi berkembang di masyarakat masalah menonjol dan penting di pasar modal, pasar uang, dan keuangan perusahaan nyaris tak pernah luput dari perhatiannya yang menarik sekaligus menekan kemungkinan kerugian yang di timbul masalah yang di analisisnya

Reaksi berantai globalisasi atau kesejagatan sekarang bukan lagi sekadar slogan sebelumnya dunia bisa diibaratkan sebagai kumpulan beberapa rumah yang berhubungan satu sama lain hanya melalui pintu pagarnya, sekarang, dunia ibarat satu rumah yang terdiri dari beberapa ruang kekuatan penyangga atapnya akan berkurang, kalau beberapa penyangga berguguran maka rumah itu dalam keadaan bahaya.

Tiap negara menjadi makin membutuhkan satu sama lainnya penyakit yang diderita satu negara bakal terasa dampaknya pada negara lain penyakit yang diderita oleh beberapa negara saat ini yang bersamaan merupakan wabah serius bagi perekonomian dunia bahkan penularan Covid wabahnya ini belum usai.

Jadi dalam era kesejagatan ini secara agregat dunia akan menderita akibat penderitaan yang di alami satu atau beberapa negara adalah logis bagi negara-negara yang belum terkena krisis untuk menolong negara-negara yang sedang sakit, yang menjadi masalah negara sehat mana yang mau terlebih dulu mengulurkan tangannya.

Mengintip Covid dibalik krisis manusia tidak terlepas dari ritual yang berhubungan dengan siklus hidupnya sebagai wadah interaksi antara manusia organisasi baik swasta maupun negara juga tak terlepas dari ritual itu kelahiran dan kematian merupakan dua peristiwa penting pembuka dan penutup hidup manusia krisis adalah berkah terselubung banyak orang melihat krisis wabah covid menjadi pukulan bagi Indonesia sebaiknya saya berpendapat serangkaian peristiwa krisis ini merupakan Blessing in Disguise (Berkah Terselubung) dengan kata lain penyakit ini menjadi renungan bagi Indonesia.

Selama ini banyak orang terlena mengira perekonomian Indonesia sudah cukup kuat sehingga efisien sering di nomor dua kan karena itu kepentingan politis mencuat dan mengedepankan, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat atas dalam korupsi yang merupakan penyebab ekonomi biaya tinggi, akibatnya para pelaku ekonomi menjadi lengah,

Solusi sederhana adalah memperbanyak pelaku jujur minimum pelaku yang licik krisis ini menjurus kepada kerusakan total perekonomian Indonesia dan bukan tak mungkin, Negara Republik Indonesia pun bisa terkena kerusakan pula. (RED/AFA)

Lhokseumawe, 13 Juli 2021

*Dosen STIKes Darussalam Lhokseumawe

Idul Adha 1442H SatuAcehNews
  • Bagikan
Subscribe for notification