OPINI – Membangun Tradisi Ilmu Dengan Perpustakaan Pribadi

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh Yanuardi Syukur*

“The thing that you absolutely have to know is the location of the library.” – Albert Einstein

Jika ada surga di muka bumi, maka surga itu adalah buku. Kurang lebih itu surga bagi pencinta buku. Segala kebaikan, ketenangan, kecemerlangan, ada dalam buku. “I have always imagined that Paradise will be a kind of library,” begitu quote lengkap dari Jorge Luis Borges.

Tapi memang sih, saat baca buku–terutama jika khusyuk–kita akan dapat pencerahan. Hati jadi sedikit terpuaskan karena dapat pengetahuan, dan pikiran jadi lebih luas dari yang sebelumnya.

Di masa kayak sekarang, masih pentingkah punya perpustakaan pribadi? Sepanjang saya gabung di FB, sejak 2008, jarang orang bahas tentang pentingnya memiliki perpustakaan pribadi. Sebagian ada yang posting foto perpustakaannya, atau lagi di perpustakaan, tapi agak jarang yang menulis–atau bahkan mengkampanyekan–pentingnya tiap netizen punya perpustakaan pribadi.

Benefitnya, misalnya: Satu, orang jadi lebih berhati-hati dalam posting sesuatu, dengan demikian jumlah hoax dan berita misleading terkurangi. Atau, kedua, orang jadi makin cinta pada kebenaran, karena pikiran dan lisannya–termasuk tulisannya–makin terjaga dari sikap asal-asalan atau viral-viralan.

Masih pentingkah perpustakaan pribadi di zaman sekarang? Menurut saya, masih. Akan tetapi, harus dibagi dua: perpustakaan fisik dan perpustakaan non-fisik. Perpustakaan fisik itu bisa diisi dengan buku-buku dasar, atau buku induk dan sejenisnya. Sedangkan perpustakaan non-fisik itu yang di komputer atau online. Seseorang tinggal kumpulkan berbagai buku elektronik kemudian menempatkannya pada folder dengan kategorisasi tertentu sesuai jenis buku tersebut.

Tadi pagi, saat iseng buka instagram, saya baca postingan akun Visit The Capitol. Pada tahun 1814, Library of Congress itu pernah dibakar oleh Inggris dengan korban tiga ribu buku. Pada tahun 1815, Kongres AS menyetujui pembelian perpustakaan pribadi milik mantan Presiden AS Thomas Jefferson sebanyak 6487 buku seharga 23,950 USD.

Yang menarik bagi saya adalah pembelian perpustakaan pribadi itu. Bahwa, perpustakaan pribadi ternyata punya kontribusi luar biasa bagi perpustakaan negara, atau dalam kata lain: bermakna bagi transfer pengetahuan dari generasi ke generasi umat manusia–karena Library of Congress juga dipakai oleh banyak orang selain AS.

Kemarin, istriku cerita. Katanya, ada seorang dosen di Bandung yang buku-bukunya akan disumbangkan oleh keluarganya. Karena, yang empunya buku sudah tiada. Saya bilang, cocok untuk rumah baca, akan tetapi untuk teks akademik lebih bagus dikoleksi oleh institusi akademik atau komunitas yang konsen pada akademik.

Di beberapa perpustakaan, saya juga lihat ada ruangan yang disematkan dengan nama tokoh tertentu, berikut dengan koleksi bukunya. Namun, seiring waktu koleksi-koleksi itu pada rusak, entah dimakan rayap atau karena warnanya yang sudah tidak enak dibaca. Untuk itu, butuh perawatan gimana caranya agar buku-buku tua tersebut isinya diselamatkan.

Saya punya ide, untuk buku tua yang naskahnya sudah tidak ada, selain bisa dijadikan file online, juga bisa diminta kepada penulis atau peneliti agar menerjemahkan, menulis tentang itu, atau singkat mengkajinya. Tujuannya agar naskah tua itu bisa tetap dinikmati. Tapi, tetaplah naskah aslinya perlu ditulis ulang agar kita tidak kehilangan karangan dari orang-orang terdahulu.

Mungkin ada baiknya juga agar penerbit, perpustakaan, institusi pendidikan, dan semua komunitas membiasakan posting apa saja buku lama yang perlu diterjemahkan atau dikaji lebih dalam.

Dalam konteks Islam misalnya, ada banyak karya ilmuwan Islam yang sekarang masih jadi manuskrip di perpustakaan umum, universitas, dan pribadi, dan itu butuh untuk diselamatkan untuk para penulis dan peneliti.

Menurut Prof Paul Lettink, seperti yang disampaikan saat wawancara dengan Dr Syamsuddin Arif (2016), tantangan untuk menyelamatkan manuskrip itu adalah dengan beberapa hal: melacak keberadaannya, mendata, mengedit, dan menerbitkannya. Kemudian diteliti, diuraikan, dibandingkan dengan teks sejenis. Kemudian, hasil kajian itu diterbitkan dalam bahasa Inggris agar manfaatnya lebih luas secara internasional.

Kembali pada judul tulisan ini. Perpustakaan pribadi tetap kita butuhkan, akan tetapi perlu ada manajemen khusus agar tidak too much buku di rumah–bahkan hingga buku yang tidak pernah dibaca bertahun-tahun, hanya jadi koleksi–hingga gimana cara mengaktivasi perpustakaan pribadi yang online sebaik-baiknya. (RED/AFA)

Depok, 13 Juni 2021

*Presiden Rumah Produktif Indonesia (RPI), Analis Pendidikan dan Sosial Kebudayaan Nasional

Idul Adha 1442H SatuAcehNews
  • Bagikan
Subscribe for notification