OPINI – Media Sosial Sebagai Alat Dan Tempat Belajar

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh: Yanuardi Syukur*

Tiap netizen punya tujuan spesifik dalam media sosial, salah satunya adalah menjadikannya sebagai alat dan tempat belajar.

Sebuah blog The University of Arizona, ‘Using Social Media for Learning’, menulis seperti ini: “Bukan rahasia lagi bahwa media sosial berada di tengah-tengah kehidupan kebanyakan orang. Media sosial memengaruhi cara kita hidup, cara kita bekerja, dan sekarang lebih dari sebelumnya, cara kita belajar.”

Mengutip sebuah studi: Saat ini, semakin banyak guru dan profesor yang menggabungkan media sosial ke dalam kelas mereka untuk melibatkan siswa dan mendukung pengembangan pendidikan mereka, baik secara online atau secara langsung.

Di Facebook misalnya, kita bisa belajar dari apa yang diposting teman kita. Senang pada filsafat, maka add saja sekian banyak pakar filsafat, jalin pertemanan, beri komentar, bertanya-menjawab, dan sebagainya. Pasti, seseorang akan dapat banyak makna terkait filsafat.

Jika ada tulisan, itu lebih baik lagi. Tag kepada pakar filsafat atau sesama pembelajar filsafat, minta pendapat terkait satu problematika tertentu. Transfer pengetahuan itu akan lebih bermakna jika dilakukan dengan niat yang serius untuk menambah perbendaharaan ilmu, bukan untuk pintar-pintaran, misalnya.

Berarti, Facebook dalam hal ini dapat jadi sarana untuk belajar. Tambahan lagi, jika mau lebih serius, saran saya: “Tulislah postingan menarik dari para pakar, renungkan, dan kembangkan.” Saya lihat, orang-orang pintar kalau buat status selalu ada ‘sesuatu’ di baliknya; tersirat atau tersurat. Agar nggak lupa, atau ‘kehilangan buruan’–mengutip peribahasa–kita harus menuliskannya.

Instagram juga dapat jadi tempat belajar yang menyenangkan. Awal pakai IG, di Bandung waktu itu, saya berteman dengan banyak orang. Belakangan saya batasi, karena rupanya tidak semua hal harus di-follow. Banjir informasi kadang bikin otak kita nggak bisa kreatif. Maka, selektif dengan informasi–termasuk akun yang di-follow–juga sikap bijak terhadap otak kita sendiri.

Saya kemudian follow akun tertentu; personal, kampus, NGO, negara, berita, dan info menarik. Dari akun-akun tsb saya pelajari, apakah hal penting yg dapat saya pelajari? Kadang, saya catat apa yang saya baca. Misalnya, sambil belajar bahasa Inggris, saya kadang mencatat apa yang ditulis orang, mencari terjemahannya, dan memakainya sebagai bahan tulisan, atau paparan materi.

Twitter termasuk media paling ramai yang dipakai orang. Singkat-singkat, tapi singkatnya itu yang jadi primadona. Susahnya, kalau sudah posting nggak bisa diedit lagi. Beda sama FB dan IG. Di Twitter saya follow akun tokoh publik untuk belajar dan ingin tahu apa sih yang sedangkan terjadi di negaranya atau yang jadi perhatian di komunitas atau personalnya.

Dalam pembelajaran, media sosial juga saat ini dimasukkan sebagai alat belajar, atau pendukung pembelajaran. Riset salah satu kampus di Jerman menunjukkan semakin banyak guru yang memasukkan media sosial ke dalam kelas mereka tidak hanya untuk melibatkan siswa tetapi juga untuk mendukung pengembangan pendidikan mereka. Suka atau tidak, medsos saat ini, tak terkecuali di Indonesia, telah membentuk cara siswa belajar dan berinteraksi saat ini.

Sebagai learning tool, penggunaan medsos sebagai alat belajar bagi siswa, tetap harus dalam bimbingan. Bahkan, orang dewasa juga menurut saya harus dibimbing, agar dapat mengantisipasi mana yang baik dan buruk dari medsos. Contohnya, bagaimana mengantisipasi penipuan di medsos, itu butuh ilmu khusus. Banyak orang yang tertipu di media sosial, yang berdampak pada pengambilalihan akun, atau istilah kita: di-hack.

Dari sekian banyak medsos yang kita pakai, menurut saya harusnya menjadikan kita lebih cerdas dari hari ke hari. Jika makin hari tambah buruk, berarti ada yang salah di situ. Harusnya sarana teknologi canggih ini kita pakai untuk meningkatkan kapasitas, jangan sampai menurunkan kapasitas atau sampai merasa “tidak ada apa-apa yang saya dapatkan dari sini kecuali pertemanan.” (RED/AFA)

Depok, 13 Juni 2021

*Presiden Rumah Produktif Indonesia dan Analis Sosial Budaya Nusantara

Idul Adha 1442H SatuAcehNews
  • Bagikan
Subscribe for notification