OPINI – Tikus Berdasi Sang Perusak Etika Pemerintahan, Bagaimana Hubungannya Dengan Filsafat Pemerintahan?

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh : Reka Arya Nanda*

Etika pemerintahan adalah pedoman atau acuan aparatur pemerintahan dalam berperilaku. Etika pemerintahan menjelaskan mana perilaku yang baik dan perilaku yang buruk yang harus dijauhi oleh aparatur pemerintahan. Etika pemerintahan menjadi bekal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh aparatur pemerintahan dalam lingkungan pemerintahan.

Pemerintahan yang baik atau good governance akan terwujud apabila aparatur pemerintahan menjalankan tugasnya berdasarkan nilai-nilai etika pemerintahan. Aparatur pemerintahan harus berperilaku, bersikap, dan membuat kebijakan berdasarkan kepentingan rakyat banyak bukan karena kepentingan dirinya semata. Aparatur pemerintahan sudah seharusnya memiliki nilai etika pemerintahan yang baik, yakni dengan bersikap jujur, bertanggung jawab, dan amanah dalam menjalankan tugasnya.

Di indonesia permasalahan terkait etika dalam penyelenggaraan pemerintahan sangat beragam, salah satunya tercerminkan dari banyaknya tikus-tikus berdasi yang bermunculan dari lingkungan pemerintahan. Di negara berkembang seperti Indonesia korupsi yang dilakukan oleh para tikus berdasi sudah menjadi budaya dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Mereka seperti penyakit berbahaya dan menular yang belum ditemukan obat yang tepat untuk membasminya.

Di masa pandemi seperti ini tikus-tikus berdasi tersebut tetap saja bermunculan. Uang Bansos yang seharusnya digunakan untuk menolong tetapi malah dicolong. Disaat negara sedang kalang kabut memikirkan cara untuk mengatasi pandemi, mereka malah mencari cara untuk meraup keuntungan dari pandemi ini.

Tikus berdasi sudah seharusnya diperangi, mereka bukan hanya merusak nilai-nilai etika pemerintahan tetapi juga merusak negeri. Korupsi yang dilakukan oleh para tikus berdasi ibarat penyakit kronis yang semakin hari semakin merusak tatanan negeri. Berbagai cara sudah dilakukan untuk membasmi mereka, tetapi tetap saja tikus-tikus berdasi tersebut masih berkeliaran dengan lincahnya.

Dalam teori etika, korupsi yang dilakukan oleh para tikus berdasi berkaitan dengan etika individu, yang dimana seseorang yang mempunyai wewenang seharusnya menjalankan tugas sesuai dengan kewajiban dan tanggung jawab yang diembannya. Etika individu ini mengacu pada nilai-nilai moral yang dimiliki oleh seseorang sehingga menghasilkan sikap dan tindakan yang baik. Hadirnya para tikus berdasi menunjukkan kurangnya etika individu pada diri mereka.

Penyebab terjadinya praktik korupsi di lingkungan pemerintahan bukan hanya karena besarnya kewenangan yang dimiliki, tetapi juga disebabkan karena pelanggaran terhadap nilai-nilai etika pemerintahan. Secara tidak langsung tikus-tikus berdasi tersebut sudah merusak nilai-nilai yang terkandung dalam etika pemerintahan.

Etika lahir dari filsafat, etika merupakan bagian sekaligus cabang dari filsafat. Merusak nilai-nilai etika pemerintahan berarti juga merusak nilai-nilai yang ada didalam filsafat pemerinatahan. Etika sebagai cabang filsafat akan memberikan arahan dalam berperilaku sehingga nantinya akan menghasilkan perilaku yang baik. (PR/AFA)

Banda Aceh, 26 Mei 2021

*Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Jurusan Ilmu Pemerinntahan, angkatan 2019

Idul Fitri 1442H SatuAcehNews
  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.