fbpx

Peran Media dalam Memberitakan Wabah Covid-19

153

Oleh : Muhammad Afdha*

SatuAcehNews – Wabah Covid-19 atau Corona Virus Disease 2019 merupakan virus yang mematikan di dunia saat ini. Indonesia salah satu dari beberapa negara yang terjangkit virus Corona. Wordd Health Organization (WHO) menetapkan virus Corona ini sebagai pandemi global pada maret lalu.

Dimulai dari China, kini hampir seluruh negara diwabahi virus ini. Sebagai upaya pencegahan, pemerintah Indonesia sampai saat ini telah menerapkan beberapa upaya pencegahan penyebaran virus Covid-19 diantaranya mulai dari “Social Distancing”, “Physical Distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Seiring dengan upaya yang terus dilahirkan oleh pemerintah. Ada beberapa faktor indikator yang belum memberikan dampak pada percepatan penyebaran Covid-19. Sebagai bukti, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 merilis update Corona di Indonesia per 9 Mei 2020, jumlah Orang Dalam Pangawasan (ODP) 246.847, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 29.690. Dari angka tersebut, Jawa Barat merupakan provinsi yang menduduki peringkat pertama, menurut catatan pusat informasi Corona kumparan yang mengambil data pemerintah, jumlah ODP terbanyak ada di Provinsi Jawa Barat dengan 43.160 orang. Jawa Barat juga mencatat jumlah PDP tertinggi dengan angka 6.466 pasien, dilansir oleh Kumparan, Rabu (13/03/2020).

Berbanding terbalik dengan daerah Jawa Barat, dan daerah-daerah lain di Indonesia. Aceh sendiri yang beribu kotakan Banda Aceh sangat kecil kasus Covid-19 yang ada di “Tanoeh Rencong” julukan untuk Provinsi Aceh, hal ini menurut pantauan penulis sendiri. Update Corona di Aceh per 8 Mei, Positif 17 orang, Sembuh 11 pasien, ODP 1.937, PDP 91 dan Update Corona di Aceh 9 Mei, tak ada penambahan kasus positif, PDP bertambah 1 orang, dilansir oleh ACEHKINI.

Di masa pandemi seperti ini, media massa dan online sangat berperan penting dalam meliput pemberitaan isu tentang Covid-19, Pemberitaan isu Covid-19 menjadi salah satu isu yang sangat populer di beberapa media nasional di Indonesia seperti, kumparan.com, kompas.com, antaranews.com dan masih banyak lagi media serupa yang menjadikan isu Covid-19 sebagai sasaran pemberitaannya. Pantauan penulis isu Covid-19 sangat gencar di beritakan baik media online maupun media massa. Oleh karena itu, isu Covid-19 telah menjadi salah satu populer trending di halaman rubrik, baik di media massa maupun media online.

Kanal media massa dan online di Indonesia saat ini semua nya memburu update perkembangan Covid-19. Di masa darurat ini, dalam dunia pers semua wartawan diharapkan harus jeli dalam menggali informasi terbaru tentang isu tersebut. Setiap informasi yang di terbitkan harus bisa di pastikan kebenarannya agar “simpang siur” tidak terjadi dalam kalangan masyarakat. Karena juga ditakutkan akan menjadi momok besar lahirnya informasi yang menyebabkan kegelisahan di kalangan masyarakat. Disisi lain, penulis berani mendefinisikan bahwa wartawan juga termasuk Garda terdepan dalam mencegah penyebaran pandemi global ini yakni, melalui informasi – informasi yang disampaikan yang mengandung unsur-unsur yang berkaitan dengan upaya pencegahan penyebaran Covid-19 tersebut.

Dalam dunia pendidikan saat ini membedakan antara berita hoaks dan fakta sangat sulit dipahami secara padat. Mengapa demikian karena budaya literasi dikalangan masyarakat Indonesia selama ini rendah wabil khusus masyarakat Aceh karena kegemaran membaca tidak didorong sejak sekolah dasar.

Gerakan literasi di sekolah saat ini minim diterapkan sehingga banyak siswa tidak gemar membaca buku. Riset kecil yang penulis dapat sebelum wabah Covid-19, banyak perpustakan disekolah  namun jarang siswa mampir untuk membaca, sekedar untuk masuk pintu pustaka pun sangat susah apalagi untuk berlama lama didalam perpustakan.

Penulis menyesalkan para guru selama ini tersibuk dengan hal berbau administratif saja, sehingga kurang mempedulikan para siswa untuk menumbuhkan niat baca. Literasi sebagian masyarakat saat ini rendah jadi sulit membedakan mana hoaks dan fakta. Sekali lagi ini karena tradisi literasi yang tidak kuat.

Dengan demikian penulis masih menantikan peran pemerintah dalam meregulasi sistem dan membuat langkah serius untuk menciptakan budaya literasi di sekolah dengan membuat program edukasi literasi secara nasional hingga merata ke daerah-daerah seluruh indonesia. Perlu kecekatan untuk dapat menuai buah literasi dan diprioritaskan menjadi program yang diturunkan ke desa-desa juga.

Nah fokus media selain memberitakan wabah Covid-19 saat ini juga harus menyoroti bagaimana bentuk literasi di masyarakat. Banyak tatanan masih kosong yang belum memberikan aspek lebih kepada pembaca dan masih banyak pertanyaan yang muncul akibat minim informasi tentang literasi.

Kurang lebih dari sebulan kita sudah merasakan dampak yang terjadi dari Covid-19, baik dari segi ekonomi, pendidikan bahkan sosial juga politik ikut terganggu sedemikian rupa. AntaraNews memberitakan “Wapres Ma’ruf sayangkan masih ada penolakan jenazah korban Covid-19”. Isu yang berkembang saat ini dimasyarakat bahwa korban yang meninggal karena Covid-19 tidak boleh dimakamkan di TPU, tetapi menurut para ahli dan ulama menyerukan agar tidak ada penolakan. Penulis berinsiatif untuk media massa dan online harus menginfokan kepada masyarakat mengapa hal ini di tolak? karena ilmu sekarang banyak masyarakat kuasai di laman media, dan teruntuk Politikus Indonesia terjun kelapangan langsung untuk mengadvokasi kepada masyarakat bahwa hal ini boleh dalam ilmu kesehatan.

Kendala yang di hadapi oleh masyarakat indonesia saat menuai tentang banyak persoalan status ekonomi masyarakat menengah ke bawah dengan keadaan sekarang ini tumpang tindih, harga pokok makanan lonjak naik drastis membuat masyarakat panik untuk kesediaan bahan panggan. Ini dipicu oleh ekonomi negatif akibat Covid-19. Lain sisi media terus gencar memproduksi berita positif tentang ekonomi indonesia saat ini. Tak terlepas dari BUMN sendiri Antaranews menyoroti hal positif yang BUMN lakukan, “Pelindo I salurkan 5 ton beras bagi warga rentan terdampak Covid-19”. Pemberitaan semacam ini tentu membuat rasa kegelisahan masyarakat terpendam karena pihak pemerintah telah menaungi hak mereka yang terkena dampak Covid-19.

Dalam penyorotan media saat ini penulis melihat pada fokus pembinaan masyarakat supaya patuh akan peraturan yang telah disepakati oleh pemerintahan Indonesia. Menjaga satu nyawa manusia wajib bagi semua golongan tak ditentukan oleh simbol-simbol agama, karena Covid-19 sudah menjadi pandemi sosial yang menyebabkan segala akses aktivitas dilarang.

Optimalkan masa-masa seperti ini untuk selalu beribadah kepada sang pencipta, ikhtiar dengan doa, perbanyak zikir, mencuci tangan ketika setelah bepergian, manfaatkan waktu untuk hobi yang ditekuni, jaga jarak dengan masyarakat sekitar, saling tegur sapa, gotong-royong, dan jangan panik.

Imam Syafi’i berkata: “Saya tidak melihat ada hal yang lebih bermanfaat untuk menghilangkan wabah dibanding bertasbih (kepada Allah)”. Hiyatul Awliya’: 9/136.

 

*Penulis adalah Mahasiswa UIN Ar-Raniry Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Sekretaris Umum HMP KPI, Sekretaris Menteri Infokom DEMA UIN Ar-Raniry, Email : afdha.muhammad79@gmail.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More