Idealnya Tata Kelola Beras Memaksimalkan Perum Bulog

  • Bagikan

SatuAcehNews, Oleh : Jacob Ereste

Menilik kasus impor beras yang hebohnya menyaingi Covid-19, ternyata dapat disimpulkan lantaran tidak sinkronnya instansi yang punya otoritas mengurus hal Ikhwal tentang beras.

Mulai dari Menteri Koordinator Bidang Ekonomi yang tidak melakukan fungsi koordinasi dengan baik dan benar, hingga Menteri Perdagangan yang terlanjur bergairah untuk berdagang yang menggaruk untung dengan cara yang gampang dan mudah. Meski harus abai pada sikap dan idealisme kebangsaan.

Jadi kusutnya masalah impor beras yang gaduh ini karena tidak sinkronnya cara kerja kedua instansi di atas dengan pihak lain yang dikangkangi otoritasnya untuk urusan beras. Kedua instansi lainnya itu adalah Kementerian Pertanian dan Perum Bulog. Maka itu yang terkesan antara dua kubu itu seperti bertikai, ambisi untuk mengangkangi pihak lain. Jadi lantaran itu pula informasi komunikasi dan data yang diperoleh masyarakat pun menjadi kacau dan menimbulkan kegaduhan.

Konsekuensi logisnya pun wajar, jika birahi impor beras itu dianggap oleh banyak pihak sekedar memburu rente dan politis. Duit yang bisa dikentit dari keuntungan yang aduhai itu cukup untuk melakukan manuver politik. Lantas tendensi politik itu pula maka birahi impor beras pun jadi semakin membara.

Hitungannya yang mudah, bayangkan saja jika dari satu juta ton impor beras itu setiap pihak bisa mendapat Rp 1.000 saja per Kilo, maka untuk satu termin saja sudah dapat triliun rupiah dari komisi impor beras yang cuma sekejab itu.

Kegaduhan dari birahi impor beras yang tidak rasional itu, wajar membuat Presiden Joko Widodo gerah dan langsung memerintahkan — utamanya terhadap Menko Bidang Ekonomi dan Kementerian Perdagangan yang terlanjur ngebet dan kebelet– tapi Joko Widodo langsung meminta impor beras yang tak rasional dan membunuh petani kita itu dibatalkan. (Baca Jokowi: Sampai Juni 2021 Tidak Ada Beras Impor Masuk,
CNN Indonesia, 26/03/2021). Tapi dari pernyataan Presiden ini jadi semakin jelas bahwa tidak sinkron dalam tata kelola beras — termasuk bahan pangan lain — yang mengacaukan perberasan atau bahkan masalah bahan pangan kita di Indonesia.

Joko Widodo menjelaskan adanya MoU impor beras dengan pihak Thailand dan Vietnam yang ada itu hanya untuk jaga-jaga keamanan stok beras. Namun Presiden telah memastikan tidak akan ada impor beras hingga Juni 2021.

Pertanyaan yang masih menggantung adalah sampai kapan negeri kita dapat memiliki ketahanan dan kedaulatan pangan yang tangguh dan kuat?

Lontaran Joko Widodo ini dalam versi berita CNN khusus untuk menanggapi polemik impor beras yang mengemuka selama beberapa waktu terakhir saat konferensi pers virtual di Youtube (Sekretariat Presiden, Jumat, 26/03/2021).

Tak sinkronnya tata kelola beras, juga seperti kata Presiden agar Menkeu harus menyediakan dana untuk Bulog guna menyerap hasil panen petani. Realitasnya perintah untuk Menkeu Sri Mulyani baru akan dilakukan kemudian. Dan bagaimana fungsi dan peranan Perum Bulog bisa maksimal, jika dana untuk itu baru akan dikucurkan kemudian?

Tak sinkronnya pengelolaan beras –juga komoditas pangan lainnya di Indonesia – semakin terang ketika Presiden keliru berkata bila pada tiga tahun terakhir Indonesia tidak melakukan impor beras. Padahal info dari Dirut Bulog Budi Waseso, sisa dari stock beras tahun 2018 saja masih meluap bahkan sebagian dari sisa stock padatiga tahun lalu itu banyak yang sudah busuk.

Dari sengkarut perberasan ini maka fungsi dan peranan Bulog harus diperluas dan ditingkatkan levelnya agar memiliki otoritas setara kementerian. Karena Bulog tidak pantas hanya diduduk- kan sebatas gudang belaka.

Fungsi dan peran Bulog meliputi preses hilir hingga ke hulu. Bukan cuma gudang penyimpanan logistik pangan belaka. Fungsi dan peranan Bulog idealnya diperluas hingga proses padi menjadi beras, sampai kemudian pendistribusian hingga menjadi penjinak pasar kita yang selalu terkesan liar memangsa konsumen.

Jakarta, 6 April 2021

 

Nasir Djamil Aceh Satu
  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.