Gajah Betina Berusia 30 Tahun Ditemukan Mati di Kawasan HTI Pidie

  • Bagikan
gajah sumatera mati di aceh

SatuAcehNews | Pidie – Kematian gajah liar Sumatera kembali terjadi di Provinsi Aceh. Kali ini, seekor gajah liar ditemukan mati berjenis kelamin betina berusia sekitar 30 tahun di kawasan Hutan Produksi (HTI) Biheu Desa Papeun, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie.

Temuan gajah mati tersebut langsung direspon pihak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh usai mendapati informasi dari Leader Conservation Respone Unit (CRU) Mila, Pidie, dan bergerak ke lokasi temuan pada Selasa (30/03/2021).

Dihari itu juga, tim dokter hewan BKSDA Aceh yaitu drh. Rosa Rika Wahyuni, drh. Rika Marwati, dan drh. Ridwan melakukan nekropsi disertai olah TKP bersama Kepolisian dari Tipidter Reskrim dan Inafis Polres Pidie serta Polsek Muara Tiga didampingi tim Resort Konservasi Wilayah 5 Sigli, BKPH Pidie-KPH I dan beberapa masyarakat.

Kepala BKSDA Aceh, Agus Arianto, mengatakan, dari hasil olah TKP disekitar lokasi tidak ditemukan adanya hal-hal atau barang-barang yang mencurigakan. Lokasi temuan bangkai gajah diketahui berada di wilayah kawasan HTI yang berjarak sekitar satu kilometer dari perkebunan warga.

Berdasarkan hasil nekropsi yang dilakukan itu, kata Agus, diperoleh hasil bahwa kematian satwa diperkirakan berkisar sekitar satu Minggu, dimana kondisi bangkai sudah membusuk atau sudah mengalami autolisis dan Putrepaction bagian perut satwa sudah terburai keluar, dan beberapa bagian otot sudah rontok dari tulangnya.

gajah mati betina

“Bangkai gajah Sumatera berjenis kelamin betina dengan perkiraan usia 30 tahun berdasarkan struktur gigi satwa. Pada tubuh satwa tidak terdapat tanda-tanda kekerasan fisik seperti luka tembak, luka tusuk, luka sayat, luka bakar atau trauma lainnya selain kerusakan karena pembusukan jaringan secara alami,” jelas Agus, Rabu (31/03/2021).

Selain itu, kerusakan organ dalam secara spesifik juga sudah tidak dapat diidentifikasi karena kondisi bangkai yang sudah sangat membusuk. Temuan bangkai satwa ini juga dekat dengan sumber air yang biasanya merupakan indikasi karena keracunan.

Tim medis, sambung Agus, juga mendapatkan informasi dari warga yang pernah melihat gajah tersebut seperti kurang sehat dalam beberapa waktu terakhir dengan kondisi agak kurus dan terpisah dari rombongan.

“Dari hasil nekropsi yang dilakukan secara makroskopis dan hasil informasi dilapangan, bahwa kematian satwa yang satu ini diduga karena keracunan (penyakit yang diakibatkan efek dari keracunan),” imbuh Agus Arianto dalam keterangan tertulisnya yang diterima SatuAcehNews.

Untuk itu, guna mengetahui kepastian penyebab gajah mati, tim medis mengambil beberapa sampel seperti sisa makanan dalam usus satwa, usus dan ujung belalai yang akan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik untuk dilakukan uji laboratorium/toksicologi.

Gajah SUmatera mati Selanjutnya BKSDA Aceh akan terus berkoordinasi dengan pihak Polres Pidie untuk mengetahui ada tidaknya unsur pidana terkait dengan penyebab kematian gajah liar tersebut. Kepada seluruh lapisan masyarakat diharapkan untuk saling menjaga kelestarian alam khususnya satwa liar Gajah Sumatera dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa.

Selain itu tidak menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup ataupun mati serta tidak memasang jerat ataupun racun yang dapat menyebabkan kematian satwa liar dilindungi dan dapat dikenakan sanksi pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Disamping itu, beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan konflik satwa liar khususnya Gajah Sumatera dengan manusia, yang dapat berakibat kerugian secara ekonomi hingga korban jiwa baik bagi manusia ataupun keberlangsungan hidup satwa liar tersebut.

Sebagaimana diketahui, Gajah Sumatera (elephas maximus sumatranus) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi.

Berdasarkan The JUCN Red List af Ihreatened Species, satwa yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Gritcally Endangered atau spesies yang terancam kritis, beresiko tinggi untuk punah di alam liar. (CSB)

Nasir Djamil Aceh Satu
  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.