fbpx

Sukri Masnur: Saya Tidak Mengambil Paksa Anak Saya

5.274

SatuAcehNews – Teuku Sukri Masnur membantah dirinya disebut sebagai orang yang mengambil paksa anak, Teuku Muhammad Farhad (5) dari tangan ibunya, Mar’ah Sholihah.

SatuAcehNews memberikan hak jawab kepada Sukri terkait pernyataan pihak Mar’ah Sholihah yang menyebut dirinya telah merebut paksa anak semata wayang mereka.

“Saya tidak menculik, atau merebut paksa, atau apalah yang disebutkan di berita sebelumnya. Saya membawa anak saya dengan baik-baik. Pada saat saya membawa Farhad, saya dan Mar’ah masih berstatus suami-istri,” jelas Sukri Masnur kepada SatuAcehNews, Kamis (30/04/2020) di Meulaboh.

“Selama satu bulan lebih, saya tidak bisa berkomunikasi dengan Farhad. Sebagai seorang suami, sebagai seorang ayah, tentu bisa dipahami perasaan saya. Saya punya tanggung jawab untuk menafkahi anak saya dan membesarkannya,” lanjut Sukri.

Kronologis Kejadian

Sukri Masnur juga memaparkan kronologis kejadian ia membawa anaknya. Secara umum urutan waktu dan peristiwa yang terjadi tidak ada perbedaan, hanya saja T. Sukri Masnur memaparkan dari sisi yang berbeda.

Teuku Sukri dan Mar’ah menikah pada 1 November 2014 di Jakarta. Dari hasil pernikahan mereka dikaruniai satu orang anak laki-laki bernama Teuku Muhammad Farhad. Saat itu Sukri Masnur masih menjalani Pendidikan S2 di sebuah perguruan tinggi di Jakarta, tepatnya semester 2.

Selesai kuliah, Sukri membawa istri dan anaknya tinggal di Aceh. Selama di Aceh, Mar’ah telah dua kali meminta izin pergi ke Jakarta. “Walaupun saat itu ekonomi masih belum menentu, saya ijinkan juga,” terang Sukri.

Kepergian Mar’ah ke Jakarta yang kedua, di bulan Februari 2019 Sukri menjelaskan bahwa Mar’ah sulit diajak berkomunikasi. Berkali-kali Mar’ah juga meminta Sukri menjatuhkan talaq kepadanya, namun Sukri menolaknya. “Tapi saya persilahkan Mar’ah untuk fasakh,” lanjut Sukri.

Fasakh adalah tindakan pembatalan akad oleh pihak yang mempunyai hak, disertai dengan hilangnya seluruh konsekuensi akad. Fasakh bisa membatalkan akad nikah dengan segala konsekuensinya, baik kewajiban nafkah, ‘iddah maupun yang lain.

Pada akhir Februari 2019, Sukri pun berangkat ke Jakarta untuk mencoba menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Namun anehnya, keluarga Mar’ah sudah tidak tinggal di rumah yang selama itu mereka tinggal. Yang lebih mengejutkan lagi adalah Sukri mendapat kabar dari bekas tetangga keluarga Mar’ah jika anak mereka Farhad sudah diganti nama menjadi Alfath. “Saya kaget sekali. Saya kehilangan jejak dimana keberadaan istri dan anak saya. Dan yang bikin saya syok saat tetangga mengatakan bahwa Farhad sudah diganti nama menjadi Alfath,” terang Sukri.

Akhirnya Sukri memutuskan untuk mencari tempat tinggal baru Mar’ah dan Farhad. Berbekal informasi dari tetangga, diketahui mereka pindah dan mengontrak rumah di lokasi yang lumayan jauh dari tempat tinggal sebelumnya. Itu pun masuk-masuk ke lorong dan dekat dengan kali, tapi masih di seputaran Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Pada tanggal 27 Februari 2019, Sukri menyewa mobil untuk mendatangi tempat tinggal Mar’ah bersama ibunya Siti Aminah. Beruntung, pada saat itu Sukri melihat Farhad sedang bermain di sebuah warung bersama ibunya. “Saya tidak langsung menemui Farhad. Saya khawatir akan terjadi cekcok antara saya dan Mar’ah. Karena saya menganggap sudah niat tidak baik dengan pindah rumah, mengganti nama anak saya, dan tidak berkomunikasi. Saya tunggu di dalam mobil. Yang penting saya selamatkan dulu anak saya, masalah kami nantilah itu diurus. Jadi saya meniatkan nanti saya hubungi ibunya,” terang Sukri.

Baca Juga: Ambil Anak Secara Paksa, Dosen Di Kota Meulaboh Dilaporkan Ke Polisi

Tak lama, Mar’ah masuk ke dalam rumah sedang Farhad sendiri di depan warung. Saat itulah kemudian Sukri mendatangi Farhad dan memeluknya. Berbicara sebentar, Farhad kemudian dibawa ke mobil oleh Sukri. Karena tetangga tidak mengenal Sukri sebagai ayah kandung Farhad, warga kemudian mencoba menghalangi.

Tak berapa lama adiknya Mar’ah yang bernama Ahmad Qosam Amrul Haq mendekati mobil yang membawa Farhad. Begitu mengetahui siapa yang membawa Farhad, Ahmad Qosam kemudian meminta untuk berbicara baik-baik di rumah. Namun hal itu ditolak oleh Sukri. “Bagaimana mau bicara baik-baik, selama ini saya tidak bisa berkomunikasi dengan Farhad. Saya mau bawa anak saya jalan-jalan dulu,” jelas Sukri.

Setelah ada peluang, Sukri jalan terus membawa Farhad dan kembali ke Aceh.

Proses Talaq

Pada 4 Maret 2019 Mar’ah ditalak 3 via telpon oleh Sukri.  “Dia sudah sering kali meminta untuk ditalaq. Maka saat itu saya menjatuhkan talaq 3 kepada mantan istri saya melalui telepon karena saya tidak mungkin datang ke Jakarta lagi,” terang Sukri Masnur.

Tanggal 8 Maret 2019, Mar’ah mengurus proses perceraian tersebut ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan.

Tanggal 13 Mei 2019 Salinan Putusan Perceraian dan Salinan Putusan Hak Asuh Anak jatuh pada sang istri Mar’ah Sholihah. Putusan dinyatakan Verstek, yaitu kewenangan hakim untuk memeriksa dan memutus suatu perkara meskipun Tergugat dalam perkara tersebut tidak hadir di persidangan pada tanggal yang telah ditentukan, menjatuhkan putusan tanpa hadirnya Tergugat. Karena Tergugat tidak hadir, maka putusan tersebut dijatuhkan tanpa bantahan.

Menurut Sukri, keputusan Eksekusi Anak di Pengadilan Agama Jakarta Selatan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena dianggap cacat secara administrasi.

“Namun surat tersebut salah alamat. Surat dari Pengadilan Agama Jakarta Selatan ditujukan kepada Mahkamah Syariah Aceh Barat. Padahal saya kan berdomisili di Aceh Barat Daya. Saya sudah sampaikan ke Mahkamah Syariah Abdya tentang hal tersebut,” lanjut Sukri Masnur.

“Selama Farhad bersama saya, tidak ada dibatasi komunikasi. Farhad selalu telpon bahkan videocall dengan ibunya,” terang Sukri menutup.

Tanggapan Penasehat Hukum Mar’ah Sholihah

 

kasibun daulay
Penasehat Hukum Mar’ah Sholihah Advokat Kasibun Daulay dan Advokat NOurman Hidayat dari Kantor Hukum Kasibun Daulay dan Rekan.

Kantor Hukum Kasibun Daulay dan Rekan selaku penasehat hukum pihak Mar’ah Sholihah menganggap tidap perlu mempermasalahkan alamat yang berbeda.

“Masalah alamat surat yang salah, itu hanya masalah formil. Tapi bukan subtansi keputusan,” terang Kasibun Daulay, SH, MH melalui sambungan telepon.

“Alamat kan bisa aja berubah-ubah, sekarang aja bisa berubah. Buktinya sekarang dia kan sudah jadi warga Aceh Barat, udah menikah juga disana kan? Itu kan artinya alamat itu hanya masalah formil, bukan substansi materiil isi putusan Pengadilan Agama Jakarta Selatan No 1007/Pdt. G/2019,” lanjut Kasibun menerangkan.

Menurut Kasibun, anak yang disengketakan adalah masih di bawah umur atau disebut masih belum mumayyiz dalam Kompilasi Hukum Islam. Pasal 105 KHI mengatakan, “Anak yang belum mumayyiz itu adalah anak yang belum bisa menentukan keputusan dan hak asuhnya jatuh kepada ibunya. Kecuali ibunya dipastikan tidak bisa memelihara anaknya seperti gila atau mentelantarkan anak.”

“Sebenarnya masalah ini sederhana, karena secara hukum, dasar hukumnya sangat kuat hak asuh anak jatuh kepada ibunya. Anak yang umurnya sudah 10 tahun saja hak asuhnya jatuh kepada ibunya, apalagi ini si anak masih umur 5 tahun. Tentu kasih sayang ibu yang paling dibutuhkan si anak saat ini, bukan mempertahankan ego orang tua (ayah),” tutup Kasibun menjelaskan.

Ucapan 300

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Ucapan 300-2
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More