Bejat! Perkosa Keponakan Sendiri, Diki Pratama Divonis 200 Bulan Penjara

  • Bagikan
Diki pelaku perkosa keponakan
Terdakwa Diki Pratama bin Jasli dinyatakan terbukti melakukan tindak pemerkosaan terhadap keponakannya sendiri dan dijatuhi vonis penjara 200 bulan.

SatuAcehNews – Seorang paman yang perkosa keponakan kandungnya sendiri, Diki Pratama bin Jasli divonis penjara 200 bulan oleh Mahkamah Syar’iyah Jantho. Putusan tersebut dibacakan oleh Majelis Hakim dalam sidang terbuka untuk umum pada hari Selasa (30/03/2021 di Ruang Sidang Utama Mahkamah Syar’iyah Jantho.

Majelis Hakim C1 yang menyidangkan perkara pemerkosaan terhadap anak dibawah umur menjatuhkan hukuman penjara selama 200 bulan kepada terdakwa Diki Pratama yang dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya sebagaimana ketentuan Pasal 49 Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Jinayat.

Amar keputusan majelis hakim menyatakan terdakwa DIKI PRATAMA BIN JASLI terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Jarimah Pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan mahram dengannya, sebagaimana dakwaan alternatif kedua.

Majelis Hakim menjatuhkan hukuman ‘uqubat ta’zir terhadap terdakwa dengan ‘uqubat penjara selama 200 (dua ratus) bulan dikurangi masa penahanan yang telah dijalani oleh terdakwa. Karenanya, Majelis Hakim juga memerintahkan terdakwa tetap dalam tahanan.

Barang bukti berupa satu buah falshdisk yang berisikan rekaman pengakuan korban dirampas untuk kemudian dimusnahkan. Selain itu, Terdakwa dihukum untuk membayar biaya perkara sejumlah Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).

Ketua Mahkamah Syar’iyah Jantho, Siti Salwa, S.H.I., M.H. melalui humasnya Tgk Murtadha Lc. mengatakan bahwa keputusan kasus perkosa keponakan tersebut diambil setelah mempertimbangkan fakta yang terungkap dalam persidangan.

“Majelis Hakim sudah mempertimbangkan fakta fakta yang terungkap dalam persidangan, mendengar keterangan korban dan mempertimbangan alat bukti secara seksama dan menyeluruh terhadap proses jalannya pemeriksaan persidangan perkara ini, sehingga Majelis Hakim mempunyai keyakinan kuat untuk menjatuhkan hukum 200 bulan penjara kepada Terdakwa DF,” jelasnya.

Terhadap putusan tersebut, Terdakwa yang didampingi oleh penasehat hukumnya Tarmizi SH MH menyatakan keberatan dan mengajukan upaya hukum yaitu banding ke Mahkamah Syar’iyah Provinsi Aceh.

Bebaskan Ayah Kandung

ayah kandung korban perkosaan
M Akbar ayah kandung korban pemerkosaan oleh pamannya sendiri dibebaskan oleh majelis hakim.

Pada persidangan selanjutnya di hari yang sama Selasa (30/032021) Majelis Hakim juga membacakan putusan perkara pemerkosaan terhadap anak kandung dengan terdakwa Muhammad Akbar bin Jasli.

Majelis Hakim memutuskan dengan amar putusan menyatakan Terdakwa Muhammad Akbar bin Jasli tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan Jarimah “Pemerkosaan terhadap orang yang memiliki hubungan Mahram” atau “Pelecehan Seksual terhadap anak” sebagaimana dalam dakwaan pertama maupun kedua.

Majelis hakim menyatakan membebaskan Terdakwa dari dakwaan Penuntut Umum. Selain itu Hakim memulihkan hak Terdakwa (rehabilitasi) dalam kemampuan, kedudukan dan martabatnya.

Atas vonis tetrsebut, memerintahkan Terdakwa dikeluarkan dari tahanan di Rumah Tahanan Negara segera setelah putusan diucapkan.

Dalam kasus perkosa keponakan sendiri ini, majelis hakim juga menetapkan barang bukti berupa satu buah flashdisk berisi video wawancara korban tentang peristiwa pemerkosaan dirampas untuk dimusnahkan serta menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah).

Menurut majelis hakim, Muhammad Akbar terbukti melakukan jarimah tersebut, sehingga Majelis Majelis Hakim dalam petimbangan hukum menyatakan “ Menimbang, bahwa berdasarkan pemeriksaan di dalam persidangan bahwa semua unsur dari pasal 49 dan Pasal 47 Qanun Aceh Nomor 6 tahun 2014 tentang hukum Jinayat tidak terpenuhi, maka Terdakwa Muhammad Akbar bin Jasli haruslah dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan jarimah sebagaimana didakwakan dalam dakwaan alternatif pertama maupun kedua.

terdakwa pemerkosaan keponakan kandung
Terdakwa ayah dan paman korban pemerkosaan saat menjalani sidang di Mahkamah Syari’ah Jantho.

Majelis dalam amar putusannya telah membebaskan terdakwa dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU). Atas putusan tersebut Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Aceh Besar, Rajendra Dharmalinga Wiritanaya SH melalui JPU Shidqi Noer Salsa, S.H., M.Kn. mengajukan upaya hukum kasasi.

Sebagaimana diketahui kedua perkara ini sempat menarik perhatian masyarakat secara luas, khususnya masyarakat kabupaten Aceh Besar.

Dugaan tindak pemerkosaan terhadap ponakan dan anak kandungnya sendiri yang terjadi di Aceh Besar ini mengejutkan masyarakat Aceh yang terkenal relijius. Terlebih korban masih berada di bawah umur yang seharusnya dalam perlindungan kedua orang tersebut.

Karena kasus tersebut merupakan Inses, korban dan pelaku masih bertalian darah (mahram) keluarga dimana berdasarkan dakwaan JPU dari Kejari Aceh Besar kejadian pemerkosaan terhadap keponakan sendiri tersebut terjadi pada bulan Agustus di salah satu kecamatan di wilayah Aceh Besar. ( Rilis / Mur)

Nasir Djamil Aceh Satu
  • Bagikan
Dapatkan update berita terbaru.    Oke. Terimakasih.