fbpx

Nourman Hidayat, Advokat ‘Nyeleneh’

755

Nourman Hidayat adalah salah satu advokat yang namanya mulai disebut di Aceh. Bukan saja karena kegiatan advokasi hukum dan pendampingan hukum yang dia lakoni, tapi dia juga memiliki beberapa profesi yang tidak biasa, yaitu seniman, politisi, penulis dan pekerja kemanusiaan.

Dua bulan terakhir, Nourman membuka konsultasi hukum secara online untuk lebih dari seratus kliennya yang tersebar di seluruh Indonesia. Semua dilakukannya secara gratis dan dilayani sebagaimana klien berbayar lainnya.

Kini setiap hari ini melayani minimal 3-5 klien konsultasi. Mulai dari permasalahan bisnis, investasi, warisan, perkawinan, korupsi, penanaman modal asing, Sengketa tata usaha negara, dan lainnya.

Yang paling banyak berasal dari Aceh, Batam, Bandung dan juga Ambon.

Katanya, “Konsultasi ini gratis untuk waktu yang tidak terbatas. Saya mengumumkannya melalui sosial media, dan mendapat respon yang positif.”

Setiap harinya Nourman bertemu dengan beberapa orang yang ingin kemukakan permasalahannya. Ini biasa dilakukannya di warung kopi.

Lelaki sederhana ini tak permasalahkan waktu pribadinya tersita untuk konsultasi yang tidak menghasilkan uang itu. Baginya aktivitas ini begitu membahagiakan.

Tapi diluar profesi ini, Nourman juga dikenal sebagai pekerja kemanusiaan yang aktif. Beberapa lembaga sosial Masyarakat, dia adalah konsultan hukumnya. Ini juga gratis.
Baginya profesi advokat membuat ia tak berjarak dengan masyarakat. Merasakan langsung kesulitan mereka.

“Saya ingin menjadi orang pertama yang dihubungi saat seseorang mengalami masalah hukum,” katanya berbinar.

Dia menyadari masyarakat mengalami kesulitan dalam memahami dan menjalani proses hukum yang paling sederhana sekalipun. Dia ingin, saat seseorang mengalami kepanikan saat ada peristiwa hukum tertentu, Ia menjadi salah satu yang memudahkan urusan mereka dalam hal bantuan konsultasi hukum.

Publik menyambut antusias peran Nourman sebagai advokat sahabat pencari keadilan.

Diluar profesi ini, Nourman adalah seorang seniman lukis yang diperhitungkan di Aceh. Beberapa karyanya sudah pernah dipamerkan di Aceh dan mendapat apresiasi yang luas di sana.

Tgk Hasan Tiro
Lukisan cat minyak Tgk. Hasan Tiro karya Nourman Hidayat.

Lukisan pertamanya adalah Tgk Hasan Tiro. Seorang panglima tertinggi Gerakan Aceh Merdeka.

Ada alasan khusus kenapa ia melukis Tgk Hasan Tiro, yang nota bene adalah ‘pemberontak kelas utama’ pada masa konflik di Aceh beberapa Waktu lalu.

“Saya adalah seniman yang diplomatis. Seorang Seniman yang ingin mengubah perbedaan dan mempersaudarakannya.” kata Nourman.

Ia meyakini, sebagai seniman tak bisa melepaskan latar belakangnya sebagai politisi Partai Keadilan Sejahtera. Sebagai partai politik tentu ada beberapa kesalahpamahan terjadi di lapangan. Termasuk oleh teman teman dari partai eks kombatan. Maka ia melukis tokoh ini dengan penghormatan yang tinggi dan menjadikannya sebagai upaya diplomasi bahwa PKS tidak seperti yang dibayangkan orang lain.

“Dan itu berhasil,” katanya tersenyum. Kami menjadi bersaudara dan saling menghormati. Kini publik mulai mengenal bahwa pelukis Hasan Tiro adalah kader PKS.

Lukisan Hasan Tiro adalah simbol bahwa PKS bukanlah partai yang eksklusif.

Nasir Djamil PKS
Lukisan anggota DPR RI Nasir Djami
Ikut dalam pameran lukisan seniman Aceh

Nourman juga melukis beberapa ulama NU dari Aceh. Termasuk lukisan Pimpinan Dayah Mudi Mesra Samalanga. Lukisan ulama ini saat ini ada di dayah (pesantren) terbesar di Aceh itu.

Nourman juga melukis salah seorang ulama bernama Abu Tumin, seorang ulama Kharismatik yang dilukisnya dalam waktu tujuh jam.

Lukisan itu dia hibahkan untuk dilelang kepada sebuah lembaga kemanusiaan di Aceh.

Di Partai Keadilan Sejahtera, Nourman adalah ketua humas nya untuk wilayah Aceh. Di jabatan ini, ia dan sejawatnya di Kehumasan PKS seluruh Indonesia harus memproduksi ribuan konten positif untuk sosial media. Dengan demikian diharapkan sosial media menjadi media yang paling aman dan selalu menghadirkan nilai positif ditengah krisis adab selama kontestasi pemilu dan pilkada.

Saat tsunami di Aceh tahun 2004, sebuah media massa nasional menuliskan nama Nourman sebagai pemimpin untuk 17 ribu pengungsi di Aceh. Sebuah jumlah yang sangat besar waktu itu.

Nourman yang saat itu menduduki jabatan sebagai anggota dewan di Aceh Besar, bersama teman-temannya membuka posko pengungsian dan menghimpun logistik untuk membantu korban Tsunami di Aceh Besar, Banda Aceh, hingga ke Aceh Jaya dan Aceh Barat.

“Saat itu selama hampir enam bulan kami nginap di posko,” katanya lagi mengenang.

Alhamdulilah, saat itu 37 ribu kader PKS turun ke Aceh untuk membantu saudara-saudaranya di Aceh kata Nourman lagi.

Uniknya, untuk menduduki jabatan sebagai anggota dewan DPRK Aceh Besar di periode kedua, ia hanya mengeluarkan biaya sebesar 750 ribu rupiah saja. Sebuah angka yang tidak ada nilainya untuk sebuah perhelatan politik sekelas pemilu.

Kini Nourman sedang menyelesaikan sebuah bukunya terkait politik, gerakan dan pemikiran, semoga buah pemikiran ini menjadi catatan sejarah yang bermanfaat.

Seolah kurang kerjaan, Nourman selalu punya waktu mempelajari hal-hal baru yang menarik hatinya. Wajarlah, jika kemudian publik Aceh khususnya masyarakat Banda Aceh dan Aceh Besar menggelari Nourman Hidayat sebagai Advokat ‘Nyeleneh’.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More