fbpx

Aceh Sudah Pernah, dan Terbiasa, dengan Suasana Lockdown

376

LOCKDOWN, secara harafiah artinya dikunci. Jika istilah ini digunakan pada masa pandemi penyakit seperti sekarang. Lockdown bisa diartikan sebagai penutupan akses masuk maupun keluar suatu daerah yang terdampak.

Tiongkok sudah mengeluarkan kebijakan lockdown untuk Kota Wuhan sejak episentrum pertama pada kasus itu menunjukan lonjakan kasus secara signifikan.

Lalu, bagaimana dengan Aceh mengenai keharusan lockdown ini?

Tanggal 24 Maret secara serentak di dunia diperingati sebagai International Day for the Right to the Truth concerning Gross Human Rights Violations and for the Dignity of Victims (Hari Internasional untuk Hak Atas Kebenaran dan Martabat Korban Pelanggaran Berat HAM), atau yang dikenal dengan ‘Hari Kebenaran Internasional’.

Peringatan ini menjadi upaya komunitas internasional untuk tidak hanya sekedar mengenang dan menghormati korban-korban pelanggaran HAM yang berat dan sistematik, tetapi juga sebagai daya gerak untuk mempromosikan pentingnya hak atas kebenaran dan keadilan.

Di Indonesia, para korban dan keluarga korban pelanggaran HAM masih terus berjuang untuk mendapatkan kebenaran atas tindakan pelanggaran HAM yang dialami. Seperti kasus Darurat Militer yang pernah diterapkan di Aceh.

Operasi militer Indonesia di Aceh (disebut juga Operasi Terpadu oleh Pemerintah Indonesia) adalah operasi yang dilancarkan Indonesia melawan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dimulai pada 19 Mei 2003. Operasi ini dilakukan setelah GAM menolak ultimatum dua minggu untuk menerima otonomi khusus untuk Aceh di bawah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Operasi ini merupakan operasi militer terbesar yang dilakukan Indonesia sejak Operasi Seroja pada tahun 1975 silam. Dan lucunya, saat itu pemerintah mengumumkan telah terjadinya kemajuan yang berarti dengan terbunuh atau tertangkapnya ribuan anggota GAM, atau mereka menyerahkan diri. Operasi ini mengakibatkan lumpuhnya sebagian besar militer GAM.

Namun bersama dengan gempa bumi dan tsunami pada tahun 2004, menandakan berakhirnya konflik 30 tahun di Aceh itu.

Setelah Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Tengku Abdullah Syafi’i, tewas dalam penyergapan yang dilakukan oleh Anggota Batalyon Infanteri Lintas Udara 330 Tim II/C berkekuatan 20 orang diketuai oleh Serka I. Ketut Muliastra di daerah Cubo, Aceh, pada 22 Januari 2002 pukul 09.00 WIB, maka pada 28 April 2003 berakhirnya pengerahan pasukan untuk bertarung dengan saudaranya sendiri itu.

Maka bisa disimpulkan, Aceh sudah terbiasa dengan situasi lockdown. Yakni, Darurat Militer, sebagai lockdown paling sadis yang diterima bangsa Aceh.

Oleh: Muhammad Ichsan

Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana FIB UI Kajian Kewilayahan Asia Tenggara
Isan.mdlife@gmail.com

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More