fbpx

Bupati Nurdin di Taman Kota Sigli

242

SatuAcehNews – Pukul 10 wib atau mungkin menjelang Ashar di depan Pendopo Bupati Pidie tahun 1985. Saya berada di salah satu tempat duduk permanen di depan pendopo menyaksikan tayangan hiburan di TV kotak kecil yang diletakkan di atas satu tiang setinggi dua meter.

TV yang masih berlayar hitam putih itu menjadi satu-satunya hiburan bagi warga kota yang ingin berleha-leha di taman kota. Pohon-pohon rindang dan jalanan saat itu masih sepi. Jalanan aspal pun hanya selebar tiga meter saja. Jarang yang melintasinya, kecuali beberapa becak dayung yang melintas dengan suara tenang dan bikin ngantuk. Dari Blok sawah atau Blang Asan berjarak sekitar 3-4 kilometer, biasanya kami lalui dengan berjalan kaki atau becak.

Halaman luar pendopo dulunya adalah pelabuhan pendaratan ikan. Banyak kapal nelayan bersandar disisinya. Di seberang pendopo, dengan melintasi jembatan besi ada markas komando Distrik Militer (Kodim). Dari arah pendopo kita bisa melihat dengan jelas aktivitas tentara di sana.

Hampir setiap sore, di halaman Kodim itu mendarat helikopter tentara yang suaranya bising dan menarik perhatian warga. Sebelum mendarat biasanya helikoper itu mutar mutar dulu di langit kota Sigli. Jadi setiap kali ada helikoper yang akan mendarat, maka kami dengan sepeda tua bergegas ke sana untuk melihat pendaratan itu. Keren.

Di sebelah Kodim ada sebuah Rumah Sakit Umum Kabupaten. Bangunan tua itu adalah bangunan sisa Belanda yang dingin dan tidak enak suasananya. Warna bangunannya putih agak kebiruan dengan lantai semen gelap. Saat wabah MM (muntah mencret), pasien dibaringkan di sini seadanya. Sakit apapun kita, tetap disuntik. Bukan main.

Waktu kelas 3 SD, saya sempat dilarikan ke rumah sakit idaman ini setelah mengalami kecelakaan ditabrak sebuah mobil dinas perdagangan kota Sigli, mobil itu jenis Taft putih. Saya ingat sekali. Saya sempat pingsan. Kepala saya diperban. Awas kalau jumpa mobil itu lagi!

Pantai depan pendopo dulu menjadi pantai tempat rekreasi khususnya tempat kanak-kanak mencari keong dan berlari-lari ceria (terutama di bulan Ramadhan setelah shalat Subuh). Namun di lain waktu, posisi pantai itu kini bergeser dan akhirnya tempat itu ditanam kayu bangka sebagai penahan ombak.

Terasa jelas dalam ingatan. Saat itu saya sedang bersama Bupati Pidie, Pak Nurdin Abdurrahman. Atau tepatnya sedang berada dekat dengan beliau, duduk di sisi beliau. Bupati yang eksentrik ini mirip koboi dengan kumis yang sedikit garang dan rambutnya kribo. Tapi asyiknya, beliau paling mudah ditemui oleh warga kota.

Saat itu, Pak Bupati beranjak mencoba mengemudi becak dayung. Beliau berputar-putar di hadapan kami, sangat menikmati. Beliau sendiri, entah di mana pemilik becak itu. Tapi kesederhanaan itu yang membuat beliau dekat dengan rakyatnya.

Banyak karya besar yang terjadi pada masa itu. Pendirian kampus kebanggaan Universitas Jabal Ghafur adalah salah satu yang beliau rintis. Pak Nurdin menjabat Bupati mulai tahun 1980 hingga tahun 1990.

Sekitar tahun 1985, kota Sigli menjadi lebih berwarna dengan kehadiran sutradara Eros Djarot dan artis Cristine Hakim serta crew film Tjut Nyak Dhien yang melegenda. Film biografi kolosal itu masih dibicarakan oleh banyak orang hingga kini. Selama tiga tahun (1985-1988) film Tjut Nyak Dhien diproduksi di kota ini. Maka selama itu sering terlihat pemandangan rombongan crew film dengan peralatan dan replika kendaraan perang Belanda tempoe doeloe melintasi pusat kota. Dalam film ini Pak Bupati paling aktif membantu.

Cristine Hakim yang memerankan Cut Nyak Dhien sering keluyuran sendirian di jalan jalan kota mengendarai astrea tujuh tiga (astuti). Dia berbaur dengan banyak orang dan belajar kearifan lokal di sana. Cristine tidak boleh sembarangan memerankan tokoh pejuang paling heroik di Aceh ini.

Kepada Christine, Eros Djarot sampai perintahkan baca puluhan buku tentang Aceh. Minimal tiga buku yang harus dibaca sampai selesai. Kata Eros, “Aku nggak suka perempuan bodoh”.

Nah kira-kira begitu kalo mau pahami Aceh. Baca, baca, baca.. Begitu juga kira-kira kalo mau nikah dengan lelaki Aceh, harus banyak baca buku*

*berat kali kok..

Pada akhirnya kita semua tahu, film biografi Cut Nyak Dien ini menjadi film Indonesia pertama yang tampil di Festival Film Cannes tahun 1989 di Perancis. Selain memenangkan penghargaan Best Foreign Film, Tjoet Nja’ Dien juga berhasil menyabet 9 Piala Citra pada zamannya. Pak Bupati Nurdin masih dirasakan kehadirannya hingga saat ini. Ide-idenya melampaui zamannya.

Nah, Sigli bikin kangen kan?

Banda Aceh, 19 Maret 2020

Nourman
Advokat
082117316559

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More