fbpx

Beringin Teater Sigli 1980

246

SatuAcehNews – Seingat saya, sejak empat puluh tahun lalu, pohon beringin yang ada di pusat Kota Sigli sudah berdiri tegak dan tak pernah tumbuh lebih besar dari yang ada sekarang. Pohon beringin itu menjadi ikon kota Sigli dan masih dibiarkan begitu saja. Hebat semua bupati Pidie, tak ada yang usik pohon itu.

Dulu di depan tempat ini ada satu bangunan bioskop yang paling besar bernama Beringin Teater. Tempatnya pas bersebelahan dengan Apotek Pidie tempat bapak kami bekerja sebagai akuntan.
Entah ada hubungan dengan pohon itu atau tidak sama sekali, namun kehadiran Beringin Teater sangat terasa sekali bagi muda mudi.

Jika kita berdiri di depan bangunan bioskop itu, maka akan terlihat jelas sekali layar poster ukuran raksasa terpampang di sana. Tapi sayangnya, gambar lukisan yang ada di sana sejak dulu sangat tidak etis ditampilkan di hadapan masyarakat. Film-filmnya juga cenderung rusak dari segi penampilan pemainnya. Hmm.. saya mulai sadar, kenapa tidak ada respon keberatan dari tokoh masyarakat pada waktu itu.
Memang, dulu kesadaran berislam tidak sebaik seperti saat ini.

Namun begitu, ada juga beberapa film yang bernuansa humanis seperti kisah Harri Anggara, atau beberapa film musik Indonesia seperti film yang dibintangi A Rafiq dengan lagu ‘Pandangan Pertama’.

Ada juga film India yang paling heroik berjudul ‘Bhagawat’ yang dibintangi Amitab Bachan dan Hema Malini. Kami sempat menyaksikannya. Dikisahkan dalam film itu, saat ‘bandit’ (sebutan untuk tokoh antagonis) berhadapan dan bertarung dengan ‘anak muda’ (istilah untuk pemeran jagoan kebenaran), maka seluruh penonton tercekat, takut, terpekik, dan bersorak seketika saat ‘anak muda’ mampu memukul ‘bandit’ dengan gagahnya. Reaksi lucu itu terus berulang hingga film berakhir. Sejak dulu, jagoan film India memang tak masuk akal soal kemampuan atraktifnya. Hebat sekali.

Jika sudah begitu, bioskop pasti bergemuruh oleh suara penonton. Kisah itu bisa terbawa sampai mimpi. Bukan main kan?? Hehehe.

Biasanya setiap pagi sekira jam 10, ada labi-labi atau mobil pickup yang berlalu lalang di seputaran kota Sigli untuk membagikan dan menyebarkan poster film yang akan tayang di bioskop itu. Operator di mobil itu menggunakan microphone mengajak masyarakat menonton film itu sambil mencampakkan poster ukuran A4 full colour itu di jalan-jalan. Ramai masyarakat memungutnya.

Setiap menjelang shalat Ashar, para penonton laki-laki mulai datang dan berbaris memesan tiket masuk. Ada yang menunggu waktu sambil jongkok makan sirih manis dan ada juga yang makan pisang bakar pakai manisan gula merah-telur asin disertai belacan.

Beberapa film dimulai menjelang Ashar, setelah Magrib, dan ada yang diputar menjelang pukul 22.00 wib. Jika film diputar sebelum shalat Ashar, maka film baru berakhir menjelang shalat Magrib. Dipastikan shalat Asharnya entah di mana. Eh.. Kami juga begitu dulunya.

Tapi begitulah kota kami, tempat paling mengesankan yang akan selalu terkenang.
Tempat terbaik bagi anak-anak keliling kota sambil duduk menghadap ke belakang di atas becak dayung dan menyusun rencana untuk esok hari: mau makan bakso bibik, atau beli kuaci dan ular tangga. Besok kita lihat.

Ah… Kota Sigli.. Bikin kangen saja.

Banda Aceh, 17 Maret 2020.
Nourman.
082117316559

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More