fbpx

Tarmizi Age: Dukung Rekomendasi Kebijakan Pemerintah Aceh Dalam Mendongkrak Ekonomi, Tapi Jangan Cilet-Cilet

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tarmizi Age (Kanan). Foto/Dok - Waktu Bersekolah di AMU Nordjlland, Aalborg, Denmark
Tarmizi Age (Kanan). Foto/Dok – Waktu Bersekolah di AMU Nordjlland, Aalborg, Denmark

SatuAcehNews – Banten | Pertanian (Perkebunan) adalah salah satu dari tiga rekomendesi kebijakan yang diumumkan Gubernur Aceh untuk mendongkrak ekonomi di tengan pandemi Corona (Covid-19), Alhamdulillah ini merupakan keputusan yang cerdas dan bijak, kata Tarmizi Age, Senin, (22/02/2021).

Kita sambut rekomendasi yang disampaikan Gubernur Nova menyangkut kebijakan ekonomi sebagai keputusan yang tepat dan merakyat,

“Dari dulu kita katakan “Aceh tidak akan maju selagi petani belum maju, Aceh akan terus miskin selagi petaninya hidup miskin,” akan tetapi suara kita tidak ada yang dengar,” ujar Tarmizi Age yang pernah menetap hampir sepuluh tahun di Negara Denmark.

“Denmark adalah sebuah negara yang dikenal sangat jago dalam bidang pertanian, bahkan mereka sering mendapat predikat dari internasional seperti PBB sebagai negara paling bahagia di dunia,” ucapnya.

Mendukung program yang di rekomendasikan Pemerintah Aceh dalam meningkat ekonomi rakyat, Tarmizi Age yang akrab disapa Mukarram menyampaikan pendapatnya, agar setiap keputusan dan kebijakan yang telah diumum pemerintah kepublik, harus bisa berjalan dengan baik, bukan pencitraan, cari pamor apa lagi upaya pengalihan isu semata,

Percayalah, Petani inginkan kebun bersih, sekaligus diisi dengan tanaman dan tumbuhan, akan tetapi masalahnya mereka tidak punya modal, mereka tidak ada uang, inilah sebenarnya tugas pemerintah, jika ingin program pertanian berjalan dan ekonomi tumbuh kembali di Aceh,

Menurut Tarmizi Age, Aceh memiliki tanah yang subur dan luas, di kelilingi laut, ditambah dengan aliran sungai, hal ini dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menggarap pertanian (perkebunan), kehutanan dan perikanan secara besar-besaran dan berkelanjutan.

Tarmizi Age yang merupakan lulusan AMU Nordjylland, Aalborg, Denmark mengatakan, pemerintah punya kekuatan bahkan kekuasaan untuk membangun sektor pertanian setiap kabupaten/kota di Aceh, sesuai budgeting anggaran yang tepat guna,

Sektor Pertanian (perkebunan) misalnya, untuk setiap kabupaten/kota, Pemerintah Aceh bisa saja setiap tahun membangun 100 hektar lahan masyarakat, anggarannya diatur mulai dari pembersihan lahan, penanaman, pemupukan, hingga sampai kepada pemanenan dan pemasaran,

“Bila anggaran tidak cukup untuk 100 hektar, ya buat dulu 50 hektar, yang terpenting adalah petani benar-benar diberdayakan dari nol sampai sukses, bukan program ‘cilet-cilet‘,” tambahnya.

“Kalau programnya sekedar bagi-bagi bibit, sampai kiamat tidak akan beres, tidak akan ada itu pertumbuhan ekonomi,” timpal Tarmizi Age

Bayangkan jika setiap tahun pemerintah bisa menghidupkan kembali seratusan hektar lahan yang sudah lama tidur menjadi lahan produktif setiap kabuoaten/kota, maka jika dikalkulasi jumlahnya seluruh Aceh, ini akan menjadi angka signifikan,

Diharap kali ini Pemerintah Aceh dibawah nahkoda Nova Iriansyah, bisa benar-benar mewujudkan impian petani yang merupakan mayoritas penghuni bumi Serambi Makkah, tidak hanya program ‘cilet meulisan bak rhueng‘,

Langkah ini pula harus disertai dengan sistem kelola yang baik dan transparan, termasuk melibatkan semua pihak, seperti lembaga-lembaga berkompeten, sehingga program yang dicanangkan tidak gagal di tengah jalan, Jika perlu pemerintah bisa juga menawarkan dan mengajak negara lain untuk ikut terlibat sama dan berkontribusi dalam program “Tani Aceh” atau apalah namanya, sehingga tingkat keberhasilannya mungkin bisa lebih besar,

Bicara pertanian (perkebunan) tidak seberapa jauh dari kehutanan, hutan juga bisa bikin uang (penghasilan) dengan mengembangkan konsep wisata hutan, bicara program pemerintah, haruslah benar-benar dikerjakan, agar bisa nampak hasilnya, bukan program lipstik doang, asal jadi,

Jangan sampai ada bibit yang disalurkan, kemudian tidak ditanami petani, karena pemerintah tidak mendampingi, lalu bagaimana program bisa sukses, ya gagal,

Pemerintah harus menempatkan anggaran yang mencukupi untuk mensukseskan setiap program, jangan kemudian ketika program gagal, lalu anggaran jadi kambing hitam, Pemerintah melalui perangkat kerja harus benar-benar menitipkan amanah dan tanggung jawab agar program sukses.

Denmark adalah sebuah negara dengan empat musim, dalam kurun waktu 6 bulan mereka tidak bisa menggunakan lahannya untuk produksi pertanian, namun dalam waktu enam bulan lainnya mereka bisa memanfaatkan setiap lahan yang ada, bercocok tanam dalam waktu 6 bulan, petani Denmark merupakan salah satu komunitas petani kaya di dunia.

“Mereka bahkan hingga hari ini tidak pernah risau dengan pangannya, belum lagi enam bulan mereka bisa hidup senang tanpa bercocok tanam,” jelasnya.

Nah, Bagaimana mereka yang hanya bisa bertani enam bulan bisa lebih kaya dari petani di negara kita yang bisa bertani sampai setahun penuh, Inilah yang harus dilakukan pemerintah.

“Pemerintah Aceh harus berupaya menciptakan daya hidup petani Aceh yang lebih maju, kalaupun tidak melebihi petani Denmark, sekurang-kurangnya mendekati penghasilan petani di negara Viking tersebut,” harap Tarmizi Age. (RED/AFA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Aktifkan notif.    Oke. Terimakasih.