fbpx

PUISI : Air Mata Petani

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

SatuAcehNews Oleh : Hendri Kinara

Aku menanam dengan cinta
Menyiramnya dengan air mata harapan dan kebahagiaan
Aku merawatnya dengan kasih sayang
Sampai waktunya telah tiba memberikan syarat

Penuaian yang kutunggu-tunggu untuk kupetik dengan tangan-tangan halus
Aku mengupasnya hingga warna kemerahan itu berubah menjadi warna mutiara yang amat penting seperti kaca
Biji-bijinya seperti butiran tasbih doa yang kusematkan sejak dahulu kala

Di tanahku, aku hidup menyambung kehidupan yang menempa kami menjadi kuat
Hidupku di tengah-tengah kopi yang banyak orang diibaratkan ilmu
Semakin ia berdiri tegap semakin banyak pula buahnya
Dari tanahku yang subur ini
Selalu tumbuh mimpi-mimpi baru

Kini kebunku telah menjadi gilang gemilang
Menjadi gedung bertingkat
Yang pondasinya dibangun dengan mataku udara yang pilu
Betonnya dari batinku yang tersiksa
Menyaksikan harga kopi yang telah tiada
Hingga aku mati di atas tanahku sendiri
Di lumbung kopi yang kini telah tiada
Kami kelaparan

Aku petani jiwa dan petani kopi ragaku
Dan akan tetap menjadi petani kopi sampai kapan pun
Petani kopi
Kopiku harga mati

Bener Meriah, 01 Februari 2021

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Aktifkan notif.    Oke. Terimakasih.