fbpx

Perkataan Toxic People Dapat Berujung Mental Heart

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

SatuAcehNews, Oleh Arina Manasikana

Kutacane – Aceh Tenggara | Sering dalam kehidupan sehari-hari kita merasa lelah, terganggu bahkan berakhir ke depresi dengan perkataan yang dilontarkan oleh orang-orang di sekitar kita. Ada sebuah pepatah mengatakan, cerminan diri seseorang terlihat dari perkataan dan kalimat yang terlontar dari dari lisan dan tulisannya. Karena seseorang adalah cerminan dari isi kepalanya.

Toxic people merupakan istilah bagi mereka yang perkataannya seperti beracun bagi pendengarnya. Secara mental, kita sulit sekali menghindari orang-orang toxic people di lingkungan kita.

Perkataan memiliki sebuah kekuatan yang sangat besar dampaknya bagi hati dan perasaan lawan bicara, ibarat memiliki daya magis. Mungkin sering kita mendengar perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib  mengenai hal ini. Yakni, “janganlah melihat siapa yang berbicara, akan tetapi lihatlah apa yang dibicarakannya”.

Margaret Thatcher, Perdana Menteri perempuan pertama di Inggris sekaligus politikus, menjelaskan bahwa apa yang kamu katakan akan menjadi karakter. Karaktermu akan menjadi kebiasan dan kebiasaan akan menentukan nasibmu untuk merubah peradaban.

Namun, seringkali kita dapati di lingkungan kita orang-orang yang masih suka membully kelemahan orang lain, seperti perkataan ‘kamu sok rajin, kamu sok pintar’, atau perkataan bernada mengejek dan meremehkan seseorang.

Perkataan merendahkan seperti ‘memang kamu bisa? kamu yakin? kamu sukanya menghayal, halusinasi kamu’. Mereka tidak sadar bahwa perkataan mereka itu membekas di hati kita, membunuh karakter bahkan mengubah perilaku kita menjadi 180 derajat.

Ibarat jarum mampu menembus kain tebal sekalipun, begitu pula halnya kata mampu menembus hati seseorang. Ada hadits yang menjelaskan bahwa jika kita mengaku sebagai orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka kita harus menjaga lisan kita dengan berkata yang baik atau diam.

Sayangnya, dalam keseharian kita masih banyak perkataan-perkataan yang meluncur yang mampu menyedot energi bahkan mental kita. Lelah hati menghadapi orang-orang yang ingin tahu urusan orang lain tanpa memahami keadaan jiwa kita yang sedang ditanyai.

Pertanyaan umum itu seperti ‘kapan menikah, kapan punya anak, kamu kenapa begini, kamu gemukan, ya’. Mereka berbicara tanpa tahu apa yang sedang kita rasakan bahkan alami. Sehingga, pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat kita yang ditanyai terlukai dan berujung mental heart atau kelelahan bathin .

Kelelahan yang berujung mental heart ini dapat mempengaruhi dan menghambat aktivitas sehari-hari. Mulai dari cara berpikir, berkomunikasi, belajar, ketahanan psikologis, dan rasa percaya diri. Bahkan lebih parah, dapat berakibat ke arah gangguan kejiwaan, gangguan mental, dan gangguan emosional yang dapat menyulitkan kita dalam bekerja, bersosialisasi, dan beraktivitas.

Dengan tanda perasaan sedih yang mendalam, menurunnya kemampuan berkonsentrasi, cemas yang berlebihan, rasa takut, perasaan bersalah, suasana hati yang berubah, menghindar dari teman dan aktivitas yang disukai, lelah dan tak berenergi, sulit tidur, halusinasi, stres, bahkan berujung untuk mengakhiri kehidupan dengan bunuh diri.

Bisa saja orang yang berkata tersebut tidak tahu bahkan tidak mengerti bahaya dari perkataan yang mereka lontarkan. Maka dari itu, mari kita belajar untuk mengontrol kata-kata kita. Karena kata yang keluar dari lisan kita mungkin terlihat sepele, namun ternyata bisa membuat hati seseorang terluka.

Mungkin kita tidak bisa mengontrol perkataan orang lain, menghindari toxic people, bahkan memilih siapa yang akan kita temui di kehidupan, akan tetapi kita bisa belajar dari diri kita untuk tidak menjadi bagian dari toxic people tersebut. (RED/AFA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Aktifkan notif.    Oke. Terimakasih.