fbpx

Pembelajaran Di Era Pandemi

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

SatuAcehNews, oleh : Ilfatin Aliza Putri*

Dunia memang sedang terguncang oleh kasus coronavirus disease atau dikenal dengan istilah Covid-19 sejak akhir tahun lalu. Virus menular yang berasal dari Wuhan, Tiongkok, itu, telah menyebar ke 176 negara. Di Indonesia sendiri terjadi lonjakan yang besar pada kasus covid-19. Jika pada Senin (16/3) kasus terdampak masih 134 orang dengan jumlah kematian lima jiwa sekarang menjadi 765 ribu kasus orang yang terdampak dan 22.734 orang yang meninggal dunia (1/1). Tentu menjadi kekhawatiran karena kasus ini akan terus membesar risikonya dan mengancam banyak sektor, termasuk dunia pendidikan.

Kasus Covid-19 di Indonesia pertama kali terkonfirmasi pada awal Maret tahun 2020. Sejak saat itu pandemi ini cepat menyebar hingga ke seluruh wilayah di Indonesia. Covid-19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Tiongkok, pada bulan Desember 2019 lalu (WHO). Virus ini sekarang menjadi sebuah pandemi yang terjadi di banyak negara di seluruh dunia. Adapun penyebaran Covid-19 sangat berdampak bukan hanya pada kegiatan ekonomi dan bidang transportasi tetapi juga pada dirasakan oleh dunia pendidikan. Sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghentikan kegiatan yang akan berpotensi menimbulkan kerumunan massa. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan social distancing, yang kemudian dikeluarkannya Surat Edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Tinggi No. 1 Tahun 2020 mengenai pencegahan penyebaran Covid-19 di dunia Pendidikan. Dalam surat edaran ini, Mendikbud menginstruksikan untuk menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dan belajar dari rumah masing-masing. Kebijakan ini kemudian dikenal dengan nama pembelajaran daring/dalam jaringan.

Pandemi Covid-19 ini memaksa social distancing atau biasanya di sebut dengan jaga jarak, hal tersebut dilakukan agar dapat mengurangi angka tertularnya Covid-19 tersebut. Dengan adanya Covid-19 berdampak pada seluruh aspek kehidupan terutama pendidikan. Sebagai upaya mencegah penyebaran Covid-19, World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk menghentikan kegiatan yang akan berpotensi menimbulkan kerumunan massa. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada Satuan Pendidikan sebagai antisipasi terhadap penyebaran virus Corona di berbagai sekolah maupun perguruan tinggi, maka  pelaksanaan kegiatan akademik dalam masa darurat penyebaran Covid-19 di sekolah maupun perguruan tinggi meniadakan kegiatan pembelajaran tatap muka dan menggantinya dengan bekerja dari rumah (WFH) dan belajar dari rumah (LFH) melalui pembelajaran daring dengan berbagai macam media. belajar mengajar daring menjadi tidak efektif karena berbagai macam kendala salah satunya adalah jaringan yang tidak stabil.

Pembelajaran daring dimulai terhitung sejak bulan Maret 2020 lalu. Adapun mahasiswa secara mandiri harus aktif mengikuti update informasi mengenai di platform mana mata kuliah mereka akan melaksanakan pembelajaran daring, pemberian tugas/quiz, dan juga penyediaan materinya. Teknis pembelajaran ini sepenuhnya menyesuaikan dengan kebijakan dosen masing-masing mata kuliah. Platform yang dapat dimanfaatkan antara lain google classroom, video conference, telepon atau live chat, zoom, webex, googlemeet, maupun whatsapp group.

Untuk melakukan tindakan pencegahan yang efektif atas wabah yang kini telah menjadi pandemi global,  di antara kebijakan yang diambil ialah menonaktifkan kegiatan sekolah atau perkuliahan di lingkungan sekolah maupun kampus serta melakukan karantina mandiri siswa, mahasiswa, dosen, guru, dan tenaga kependidikan, karyawan lainnya dan  termasuk tidak melakukan pertemuan tetapi melakukan perkuliahan dan bimbingan secara daring, meskipun pembelajaran daring ini hanya memberikan kemampuan teoritis, sehingga bagi siswa atau mahasiswa sendiri masih dirasa jauh untuk mendapatkan skill atau kompetensi yang harus didapat jika praktek dengan model tatap muka. Dijaman pandemik Covid-19 ini kualitas pembelajaran di seluruh perguruan tinggi tentunya menurun termasuk praktik lapangan, karena mestinya pembelajaran secara normal teori dan praktek harus sejalan.

Pembelajaran daring memiliki dampak negatif dan juga dampak positif. Dampak negatifnya adalah: Membuat siswa atau mahasiswa merasa kebingungan karena tugas di kumpulkan online dan kita tidak tahu apakah tugas tersebut sudah terkumpulkan atau belum karena banyak dari guru atau dosen yang tidak memberi tahu siapa yang belum bisa mengumpulkan tugas, siswa atau mahasiswa keluar masuk aplikasi yang di gunakan untuk proses belajar mengajar karena jaringan tidak stabil, Guru atau dosen pembimbing tidak dapat mengetahui siswa atau mahasiswa yang tidak masuk karena presensi dapat di lakukan secara online, Guru atau dosen tidak dapat mengetahui apakah siswa atau mahasiswa tersebut memperhatikan proses belajar mengajar. Dampak positifnya adalah, Siswa atau mahasiswa dapat menggunakan media sosial dengan hal-hal positif, siswa atau mahasiswa juga tidak terlalu kurang update tentang teknologi, karena sedikit demi sedikit mereka akan mengetahui bagaimana cara menggunakan aplikasi yang sebelumnya belum pernah kita ketahui, angka kasus yang terinfeksi Covid-19 menurun, tidak tertular Covid-19.

Hal-hal yang dapat di lakukan supaya siswa atau mahasiswa tidak merasa kebingungan adalah dengan cara bertanya ke guru atau dosen apakah tugas sudah terkumpulkan sebelum deadline, Apabila merasa kesulitan dalam mengumpulkan tugas siswa atau mahasiswa diharapkan untuk bertanya ke teman seangkatan atau ke dosen untuk mencari solusi yang baik, Jika jaringan tidak stabil diharapkan untuk izin ke guru atau dosen pembimbing, Meningkatkan perhatian guru kepada siswa, dosen kepada mahasiswa. Agar para siswa atau mahasiswa dapat mengikuti pelajaran sampai tuntas. Karena itu, materi pembelajaran melalui daring terus di perbarui agar siswa atau mahasiswa tidak jenuh dan merasa nyaman saat pelajaran dimulai.

Jadi menurut saya melaksanakan pembelajaran daring atau online ini kurang efisien, karena banyak faktor dan kendala yang di alami siswa atau mahasiswa dalam melaksanakan proses pembelajarannya, siswa atau mahasiswa tidak bisa berinteraksi langsung dengan temannya tidak bisa sharing mengenai materi tersebut apakah sudah mengerti ataupun sebaliknya, sekolah atau kuliah menggunakan metode daring ini dosen hanya memberikan materi dan tugas tanpa menjelaskan materi tersebut dan hal yang paling penting adalah tidak biasanya orang pedesaan melaksanakan pembelajaran daring atau online ini karena faktor sinyal yang susah  di dapat. (RED/AFA).

*Ilfatin Aliza Putri, Mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Malang

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Aktifkan notif.    Oke. Terimakasih.