fbpx

Selamat Tinggal Para Spesialis!

242

Penulis mendapatkan istilah keterampilan generalis (ahli pada banyak bidang ) di salah satu media massa nasional. Uraian tersebut mengacu pada persiapan generasi muda era pasca industri dan kemajuan TIK. Hal ini tentu sangat koheren dengan apa yang “dilakukan” pendidikan terhadap para calon terdidik kemudian. Sebab, banyak yang lupa, mereka (bila boleh pakai kata ini) disiapkan untuk zamannya, bukan zaman/masa saat ini.

Artinya, pesatnya kemajuan akan semakin tak terbendung pada tahun tahun ke depan. Sebagaimana sekat sekat georafis akan semakin samar dan kebutuhan penyelesaian masalah hidup akan mendapatkan skala yang berbeda,walau masalahnya sama.

Misal, seorang dokter mungkin dia hanya membuka layanan online, sementara ia berkebun dan traveling sembari membuat laporan ilmiah. Seorang pasien akan mendapatkan data akurat tentang jenis penyakit dan penanganannya dengan via pindai mata atau sampel darah secara digital dengan smartphone.
Walau tentunya kecenderungan ini tidak mengikis langsung model konservatif, tapi ia akan bergeser, sebagaimana bergesernya wartel, warnet dan pusat perbelanjaan (transaksi apapun) yang menjadi serba online.

Mengenai kecenderungan ini, pemilik Ali Baba pernah menyampaikan bahwa pada era serba maju dan digitalis, seorang hanya perlu.bekerja tiga jam perhari, karena sebagian besar aktivitasnya dapat terselaikan secara mekanik-digitalis, atau bisa dilakukan dimana saja tanpa harus ngantor secara formal.

Diatas merupakan deskripsi dasar tentang bagaimana perlunya penyiapan generasi yang “diluar dari biasanya”, atau hanya bergantung pada “materi lama dan metode lama” dalam interaksi di lembaga pendidikan (termasuk rumah).

Sedang salah satu pendekatannya adalah lewat keterampilan generatif, dimana seorang lulusan/individu, mesti memiliki ragam kemampuan KHUSUS lainnya di bidang yang ia tekuni. Minimal, bila mengacu pada teori kecerdasan berganda, setiap individu bisa kompeten dalam tiga atau empat bidang sekaligus dalam rangka “membantu” dirinya untuk menyelaisaikan persoalan hidup, termasuk di dalamnya prihal keyakinan dan pendekatan/spiritualitas berbasis tauhid sebagai piranti lunaknya.

Model ini, telah lazim diterapkan pada masa kejayaan islam, saat itu seorang tokoh bisa menuntaskan banyak bidang secara mendalam, baik di segi sains, teknologi, keilmuan Islam atau seni dan sastra. Maka tak heran, ada ahli astronomi dan matematika, tetapi ia juga seorang agamawan dan sastrawan.

Kemampuan semacam itu didapat dengan menyederhanakan sistem materi pendidikan kita yang tumpang tindih, memunculkan kembali gairah menuntut ilmu dan meneliti serta menimbang kembali makna pendidikan dasar, khususnya bagi pelajar muslim,karena mereka memiliki dua dasar acuan riil yang menjembatani semua capaian manusia dalam keadaan apapun.

Kini ucapkan, selamat datang para generalis ahli!

Taufik Sentana
Praktisi pendidikan Islam
Melayani program seminar dan pengembangan SDM. Sedang menyusun Buku “Hijrah Pendidikan”.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More