fbpx

Summer Traveling Bagian Tiga: Kawasan Multikultural Itaewon

104

SatuAcehNews – Keseruan summer traveling di Korea Selatan berlanjut. Kini kami akan menjelajahi Itaewon, suatu wilayah di distrik Yongsan yang terkenal sebagai kawasan multikultural. Pada awal masa perang Korea, di wilayah ini bermunculan toko-toko, klub-klub malam, bahkan ‘red light district’ yang sering dikunjungi para tentara Amerika Serikat dari garnisun di Yongsan.

Saat ini banyak pekerja migran dari berbagai benua bekerja di Korea Selatan. Ditambah jutaan traveler dari seluruh penjuru dunia mendatangi negara ini. Maka di setiap sudut Itaewon mulai bermunculan restoran dengan bermacam cita rasa khas berbagai negara. Mulai dari makanan Jamaika, kebab Turki, makanan Asia Tenggara, hingga taco Meksiko ada di sana. Seakan mereka berada di rumah sendiri.

Menaiki kereta dan bus, sampailah kami ke kawasan Itaewon. Atraksi pedagang es krim Turki cukup menghibur saat kami melewati mereka. Setelah hanya melihat restoran babi di setiap tempat yang kami kunjungi, kali ini begitu mudahnya menemukan restoran dengan tulisan halal.

Kami melihat ada restoran Malaysia bahkan Timur Tengah, tapi bukan itu yang kami cari. Jauh-jauh ke Korea Selatan tentu saja kami ingin mencicipi masakan khas mereka yang halal dan baik. Tentu saja, hasil dari googling terlebih dahulu.

Sampailah kami di restoran Eid dengan tulisan berwarna putih, ‘Halal Korean Food’. Dan terus terang, melihat tulisannya saja yang tidak asing itu sudah membuat kami merasa bukan orang asing disana. Meskipun pemiliknya adalah orang Korea, tetapi yang melayani kami merupakan pendatang dari Malaysia. Komunikasi pun lancar.

Masakan khas Korea yang kami pesan sangat sesuai dengan lidah. Samgyetang (Ginseng Chicken Soup) yang rasanya mirip sop ayam dengan banyak lada dan kaldu yang gurih serta daging yang sangat empuk. Jjimdak (Korean Braised Chicken) yang rasanya mirip – mirip semur ayam.

Setelah itu, kami menyusuri jalan menuju Seoul Central Mosque yang merupakan masjid pertama di Korea Selatan yang dibuka pada tahun 1976. Rumah-rumah yang dilewati rasanya tidak asing dilihat karena beberapa kali muncul dalam drama. Begitu familiar. Belum lagi seorang ibu berhijab yang berjalan bersama anaknya sembari mengucap salam pada kami. Nyaman sekali rasanya.

Di gerbang masjid jelas terpampang peraturan untuk pengunjung demi kenyamanan beribadah. Ada beberapa pengunjung perempuan Korea yang masih muda, memakai rok di bawah lutut, terlihat sedang melihat-lihat suasana masjid.

Kami menunaikan sholat zuhur dan ashar di sana. Ada hal yang menakjubkan. Dua balita Korea bermain aktif tanpa suara sementara ibu mereka sholat. Mereka berguling-guling dan benar-benar tanpa suara. Sangat menarik.

Penduduk Muslim banyak terlihat di daerah Itaewon ini. Begitupun toko segala keperluan ada di sini. Mulai dari menjual bahan-bahan keperluan sehari-hari yang halal, buku-buku Islami, sampai biro perjalanan umroh dan haji.

Maka, tidaklah aneh jika Itaewon terkenal sebagai kawasan multikultural. Makanan bermacam jenis, agama, sampai gaya hidup dapat ditemukan di sini. Jika kita beruntung, kita dapat melihat orang-orang merayakan pesta halloween atau thanksgiving. Jadi, tidak heran jika di antara restoran halal terdapat juga sejumlah bar.

Jika ingin mudah mencari makanan halal saat traveling ke Seoul, carilah penginapan di kawasan Itaewon. (PDA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More