fbpx

CERPEN : Ngidam

0

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Oleh : Ade Irwansah

sumber halodoc
sumber : halodoc

SatuAcehNews – Malam itu sepertinya aku baru saja tertidur. Sayup-sayup suara istriku memanggil. Abi..Abi, bangun, sembari tangannya mengguncang guncang tubuhku yang kedinginan.

Kulawan kantukku, kubuka mata, kulihat jam dinding, jarum pendeknya menunjuk angka satu sedangkan jarum panjang berada di angka sepuluh. Artinya jam dua kurang sepuluh menit saat itu.

“Ada apa Umi, tanyaku?” Wajah istriku terlihat cemas. “Mau ke kamar mandi tanyaku lagi?”

Anna, istriku menggelengkan kepala secara pelan. Tangannya memegang perutnya yang membola.

“Mau makan martabak buatan pak Anto yang di simpang lima,” katanya lirih.

Hah? Jam segini mau makan martabak, mana ada, lagiankan jauh dari sini tempat itu. Kantukku hilang seketika mendengar permintaan aneh istriku.

“Mau yang rasa pulut campur kelapa jelasnya lagi,” saraya mengelus-elus perutnya. Pak Anto pasti masih jualan ia meyakinkanku.

“Tapi, Umi, inikan udah jauh malam, besok saja ya Abi belinya. Abi janji besok pulang kerja beliin Umi martabak itu,” kataku menenangkannya. Anna malah menunduk diam sambil tangannya terus mengelus perutnya.

Tak lama ia berujar, “Ngidam,” ucapnya pelan. “Abi ini bukan permintaan Umi, tapi sia Adek ini yang pengen,” sembari menunjuk ke arah perutnya.

Mendengar ucapan itu, aku bergegas memakai baju dan jaket tebalku. Kusiapkan sepeda motor, kuterobos gelapnya malam dibalut hujan gerimis yang sedikit mengaburkan pandangan.

Maklum, jarak rumahku dengan simpang lima kurang lebih lima belas menit waktu normal. Kecepatan sepeda motorku bergerak di angka delapan puluh kilo meter perjam saat kupacu melintasi perjalanan yang melewati hutan dan gunung.

Dalam hati aku berdoa serta berharap semoga pak Anto masih berjualan seperti ucapan istriku.

Dibenakku, permintaan istriku ini harus terpenuhi, aku takut jika tidak, bisa terjadi hal-hal yang banyak di cerikan orang-orang pada anak pertama kami itu.

Waktu berlalu, perjalananku telah memasuki kota yang terlihat sunyi dari aktifitas manusia. Kuteruskan menuju tempat penjual martabak itu. Sesampainya di lokasi penjual martabak yang diinginkan istriku tadi telah kosong.

“Bang, kemana penjual martabak yang biasa mangkal disini?” Tanyaku pada orang yang kebetulan sedang duduk di depan warung kopi berdekatan dengan lokasi pak Anto biasa jualan.

“Pak Anto Baru saja pulang tadi, mungkin kalau dikejar masih bisa jumpa, sebab ia pulang sambil mendorong gerobaknya yang ingin diperbaiki besok.” Ucap pria tadi.

Benar saja, setelah ku kejar dengan sepeda motorku, kutemui pak Anto masih berjalan pelan mendorong gerobaknya.

“Pak, pak, bisa berhenti sebentar.” Ucapku dari atas sepeda motor. “Ada apa nak?” jawab Pak Anto dengan menghentikan laju gerobaknya. “Apa masih ada martabaknya?” tanyaku buru-buru.

“Martabaknya habis nak, ini tinggal sisa sedikit adonan yang belum di masak,” kata pak Anto.

“Dengan memberanikan diri kusampaiakan niatku. Pak bisa buatkan satu martabak pulut campur kelapa dari sisa adonan itu. Istriku ngidam kepingin makan martabak buatan bapak,” ucapku berani.

Suasana hening, sesaat pak Anto menjawab. “Bisa nak, tapi agak lama sebab menunggu panas dulu tempat memasaknya.”

“Terimakasih pak, tidak apa-apa saya akan menunggunya.”

Dalam keheningan malam itu. Pak Anto bertutur. Dulu saat istriku hamil anak pertama kami kejadian seperti ini juga saya alami. Istri saya ngidam tengah malam minta anak ayam yang diwarnai (ayam teletabis). Nyarinya susah minta ampun. Sampai-sampai saya ketok rumah yang biasa jual ayam itu. Untung dia mau buka dan mengecat anak ayam itu untuk diberikan pada saya. Kisah pak Anto.

Dengan berani saya coba tanyakan pada pak Anto apa alasannya menuruti permintaan istrinya yang terdengar sangat aneh itu. Dengan tersenyum pak Anto menyampaikan.

“Anak yang ada di rahim istri kita itu hasil perbuatan kita berdua. Maryam saja yang tidak punya suami, di bahagiakan oleh Allah ketika hamil. Masak kita yang sudah menanam benih tidak bisa membantu istri mengurangi rasa lelahnya. Anak itu kreasi berdua, bukan punya istri sendiri.”

Memang kita yang cari nafkah, tapi bayangkan waktu kita masuk angin satu hari saja sudah repot, apalagi istri yang harus mengandung sembilan bulan. Sulit dibayangkan susahnya, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak, bahkan duduk saja kesulitan.

Belum lagi, selama kehamilannya, kita sebagai suami terus minta ‘jatah’ dan istri masih terus mengurus rumah dan kita.

Masak ia nurutin keinginan istri yang tidak seberapa kita tidak sanggup.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala. Mengiyakan jawaban pak Anto.

“Lagipula kalau bukan kita, siapa lagi yang memenuhi permintaan istri, masa ia orang lain yang menyanggupinya kan aneh.” Kembali dijelaskan pak Anto.

Sekali lagi aku mengangguk. Ah iya, kemarin Anna minta dibelikan buah jengkol muda tapi belum kubelikan. Semoga ngidamnya belum lewat. Besok aku akan penuhi.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

Aktifkan notif.    Oke. Terimakasih.