fbpx

Rumah Minim Sampah Bersama Garut Zero Waste

SatuAcehNews – Kondisi darurat sampah di Kabupaten Garut sudah sangat memprihatinkan. Tahukah kita kemana limbah domestik rumah kita pergi? Mungkin tak terpikirkan oleh kita saat sampah dibawa dibawa petugas kebersihan ke tempat pembuangan sementara (TPS) dan berakhir tempat pembuangan akhir (TPA), ada masalah baru yang tercipta.

Rumah kita bersih padahal limbah tersebut hanya berpindah tempat saja. Masalah lainnya adalah TPA Pasir Bajing yang disediakan pemerintah kabupaten dikeluhkan warga karena bau menyengat. Armada sampah saat ini hanya dapat mengangkut 200 ton per hari. Sementara volume di wilayah perkotaan Garut saja mencapai 500 ton kubik dan 1000 ton untuk seluruh Garut.

garut kurangi sampahDi tahun yang sama, berawal dari bincang-bincang segelintir orang, termasuk Krismi dan Sumi, dua ibu rumah tangga pencinta lingkungan yang menjadi pionir terbentuknya komunitas Garut Zero Waste (GZW), memulai aksi. Berawal dari pertanyaan pada diri mereka sendiri, “Mengapa tidak, untuk mengatasi problem ini, kita mulai dari rumah sebagai penghasil sampah terbesar?”

Bahkan Nessa dan keluarga, salah satu pegiat GZW yang menamakan diri mereka Rumah Pasundan, telah menerapkan konsep hidup zero waste sejak 2018. Lulusan FKG UI ini memaparkan kebiasaan yang selalu dilakukan. Diantaranya membuat sabun sendiri, membuat cairan pembersih sendiri, membawa peralatan makan bukan sekali pakai kemana pun.

Selanjutnya membawa tas belanja untuk mengganti kantong plastik, membeli keperluan dapur hanya cukup untuk seminggu agar tak terbuang. Juga perlu membuat makanan sendiri bahkan keju dapat dibuat sendiri. Prinsipnya adalah sedapat mungkin tidak menghasilkan limbah sisa rumah tangga. Jikapun ada, maka pilah limbah rumah tangga sesuai sesuai jenisnya.

“Jika tidak ingin repot memisahkan limbah sisa, karena hal inilah yang paling merepotkan, maka jangan membuat sampah baru. Cegah sampah, pilah, dan olah. Bijaklah saat kita ingin membeli sesuatu, perlu atau tidak,” terang Nessa saat komunitas Garut Zero Waste mengadakan pelatihan membuat eco-enzyme (Sabtu, 25/01/2020).

“Mari kita mulai dari rumah mengingat dampak sampah plastik terhadap ekosistem laut sudah sangat mengerikan. Saat sampah plastik dibakar pun sangat berbahaya bagi kesehatan, racun logam berat dan dioksin dari sampah anorganik dapat menyebabkan berbagai penyakit termasuk kanker. Belum lagi dampak buruk terhadap lingkungan,” ajak Nessa lagi.

“Gaya hidup nol sampah adalah gaya hidup yang meminimalisasi sampah yang terbuang ke TPA atau insinerator, dikutip dari blog Sustaination. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah, sekarang! Gantilah barang-barang sekali pakai. Untuk meminimalisir sampah organik, usahakan habiskan makanan, beri makan orang yang membutuhkan, beri makan hewan, tumbuhkan kembali, dan komposkan. Say no to plastic’s big 4 (botol air mineral, kantong plastik, sedotan plastik, gelas plastik),” tandasnya.

Acara ditutup dengan praktek membuat eco-enzyme dari kulit buah-buahan yang digunakan untuk mengganti seluruh sabun pembersih buatan pabrik. (PDA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More