fbpx

Kontroversi Ganja Aceh, Pegiat Sea Studies Sependapat dengan Rafli

SatuAcehNews – Anggota DPR RI Fraksi PKS, Rafli, mengusulkan agar ganja menjadi tumbuhan lokal Aceh yang layak ekspor. Pernyataan Anggota Komisi VI DPR RI sekaligus musisi asal Aceh tersebut menjadi sorotan netizen se-Indonesia dalam minggu ini.

Kepada media, Jumat (31/01/2020), Muhammad Ichsan pegiat kajian wilayah Asia Tenggara (SEA Studies) mengatakan ia sependapat dengan pernyataan usulan Rafli itu. Terkait legalisasi ganja untuk diekspor ini, mahasiswa Pascasarjana yg sedang mengambil Ilmu Kajian Wilayah Asean di UI tersebut berpendapat bahwa usulan Rafli patut diacuhkan. Usulan ekspor produk tumbuhan ganja menjadi gerbang baru bagi kebangkitan ekonomi provinsi Aceh bahkan menjadikan mercusuar ganja di kawasan Asia Tenggara.

“Artinya Aceh akan kembali dikenal di kawasan Asean sebagai lokasi sentra perdagangan termasuk nantinya produk tumbuhan ganjanya”, sebutnya.

Ia menambahkan tentu ganja yang digadang-gadang ini adalah dalam hal kebutuhan medis. Diketahui ganja Aceh memiliki kualitas terbaik di dunia karena berkembang di lahan yang sumbur di lingkaran “ring of fire” dunia.

“Artinya di situ (Aceh) segala tanaman tumbuh subur. Kopi, pala, karet, cengkeh, kapas, lada, dan sebagainya bisa tumbuh subur. Mengapa tidak, negara menerima usulan cerdas dewan tersebut untuk menjadi barometer wilayah eksportir ganja di kawasan ASEAN. Bahkan hal tersebut nantinya menguntungkan pendapatan negara,” jelas Ichsan.

Rafli mengusulkan kepada Presiden Jokowi agar dapat memberikan izin ekspor untuk tanaman ganja. Usulan ini ia sampaikan dalam rapat dengan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. Ia melihat potensi penerimaan yang besar untuk negara dari perdagangan tanaman ganja ke luar negeri.

Mengacu kepada CNNIndonesia, dikatakan bahwa pelegalan ganja di dunia pertama kali dilakukan oleh Uruguay sejak 10 Desember 2013 silam. Namun, belum diketahui berapa nilai perputaran ekonomi dari hasil pelegalan ganja di Uruguay.

Di negara Amerika Selatan itu, ganja diperjualbelikan dengan syarat pembeli merupakan warga negara asli minimal berusia 18 tahun dan sudah mendapat izin dari pihak berwenang. Masing-masing penikmat tananan mariyuana itu hanya dapat membeli sekitar 40 gram per bulan. Namun, masyarakat boleh membudidayakan ganja sendiri asalkan tidak lebih dari enam pohon ganja.

Uruguay juga memperbolehkan ganja dijual di apotik pada 2017. Kala itu, harga ganja dijual sekitar US$1,3 per gram dan sekitar US$6,5 per paket lima gram. Harga itu diklaim lebih murah dari pasar ilegal di negara tersebut. (AA)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More